Health

Selasa, 22 Mei 2012

SERI KISAH BUNIAN : HIKAYAT KUNTILANAK



Tempat kerja Abu Abu berantakan sekali, sehingga mau tidak mau ia harus berkemas-kemas dan merapihkan tempat kerja nya. Ruang kerja itu sendiri tidak besar, hanya 3X4 M2. Di ruangan itu hanya berisi meja komputer, lemari cabinet dari plastik dan seperangkat soundsystem yang terbaru. Untuk pendingin ruangannya dia menggunakan kipas angin putar.. karena Abu Abu tidak tahan dengan pendingin AC, apalagi jika sedang merokok.

Setelah di pel dan di sapu serta barang-barang yang tercecer di simpan pada tempatnya, Abu-Abu duduk sambil mengusap keringat di tubuhnya..

Terdengar suara dering dalam format lagu dari HP nya…. Kemudian diangkat dan ia segera mengucapkan salam. si penelpon segera membalas salam yang diucapkan oleh Abu Abu..

Ternyata Budiman yang menelpon Abu Abu….

“Ada dirumah bang..?” Tanya Budiman setelah berbasa-basi sebentar dengan Abu Abu.

“Ada.. saya tidak kemana-mana, Man..”

“Bolehkah, saya mampir bang ?”

“Boleh.. tentu saja, Man…”, Abu Abu mempersilahkan Budiman untuk berkunjung ke rumahnya.

Selang beberapa waktu, Budiman datang berdua dengan seorang temannya dan mereka dipersilahkan duduk di ruang kerja Abu Abu. Sementara itu,  Abu Abu membuatkan kopi panas untuk kedua tamu tersebut. Baik Budiman dan temannya duduk saja tanpa ada pembicaraan hingga kopi yang dibuat telah di hidangkan untuk kedua tamunya itu.

Budiman memulai pembicaraan..

“Begini bang, ini adalah rekan kerja istri saya di perusahaan perkreditan.. ”, Budiman melirik ke temannya yang kemudian bersalaman dengan Abu Abu sambil menyebutkan namanya, Adi… jawab teman Budiman. 

Ia melanjutkan kalimatnya,” nah, coba cerita langsung saja kepada bang Abu, mas.. !”

Adi agak salah tingkah melihat Abu Abu, dari awal ia berpikir orang yang akan ditemuinya tentulah terlihat seperti seorang paranormal yang berwajah seram atau bermata tajam dengan celak hitam di bawah kelopak matanya atau juga pendiam tak banyak bicara. Diluar perkiraanya ternyata Abu Abu seperti anak muda dan gaul.. terlihat enak untuk diajak bicara.

Abu Abu tahu apa yang menjadi pikiran Adi, tapi selama itu sesuatu hal yang baik.. ia diam sambil tersenyum ramah..

Adi kemudian bercerita kepada Abu Abu..

“Saya tinggal di Jalan R. Suprapto bang.. disana kami mengontrak rumah itu dan sudah berjalan 1 tahun lebih.. kami tinggal dirumah itu bertiga dengan Istri dan anak berusia 3 tahun. Awal pertama kami tinggal di rumah itu selama setahun tidak pernah terjadi apa-apa, hanya akhir-akhir ini banyak kejadian aneh.. . Anak saya yang kecil sering ketakutan dan menangis, dia bilang takut melihat hantu, padahal saya dan istri tidak melihat apa-apa. Setiap kali anak kami menangis, selalu kami membawa nya berjalan-jalan.. dia bisa tenang, tetapi begitu masuk rumah nangis lagi..”

Adi Nampak terdiam sesaat, ia berusaha mengumpulkan kilasan peristiwa-peristiwa yang dialaminya bersama keluarga sejak tinggal di rumah kontrakan itu.

“Silahkan diminum dulu kopinya bang Adi..”. sela Abu Abu kepada tamunya.

Mereka kemudian minum kopi yang telah disediakan tadi, masih panas.. Budiman mengerenyitkan keningnya karena terasa panas di bibirnya.

“Apakah, bang Adi merasakan juga keanehan yang dialami oleh anaknya ..?” Tanya Abu Abu.

“Betul bang Abu, pernah saat kami nonton televisi.. tiba-tiba gambar di layar mendadak kabur lalu dari layar televisi keluar sosok bayangan wanita. Saya dan istri berpikir biasa saja, karena kami pun meyakini kita ini hidup tidak sendirian.. . Istri dan anak saya saat ini pulang ke Pontianak, karena mreka takut jika tinggal di rumah kontrakan itu dan kemarin malam saya sampai tidur di teras rumah.. hawa didalam terasa sangat panas..”, cerita Adi saat ditanya oleh Abu Abu.

Abu Abu menoleh kepada Budiman dan bertanya…

“Man, bagaimana.. ? Sudah dicobakah untuk mengeluarkankan makhluk itu ? Kuntilanak yang terlihat oleh saya..”.

Budiman membetulkan posisi duduknya dan bercerita juga kepada Abu Abu..

“Betul bang, Kuntilanak.. tapi tubuhnya berwarna merah. Sewaktu saya diceritakan oleh istri saya yang kebetulan satu kantor dengan bang Adi.. saya sendiri sudah 2 kali ke rumahnya, tetapi tidak pernah ketemu. Nah, saat yang ke-3.. saya pun sudah janjian dengan bang Adi.. sehingga saya datang lagi ke rumah kontrakannya. Saat itu lah saya melihat ada sesosok kuntilanak yang energinya terasa sampai halaman depan rumah bang Adi..”. Budiman berhenti bercerita sejenak, ia meminum kopinya tetapi sudah berkurang panasnya.

Abu Abu masih memperhatikan Budiman yang bercerita sambil memegang janggut nya dan seraya berkata..

“Hmm, kelanjutannya bagaimana ?”

“Bang Adi membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam sedangkan saya mengikuti nya dari belakang.. memang betul sangat panas dalam rumah itu. Saya coba giring keluar si kuntilanak itu dengan kekuatan energi yang ada… ternyata hanya membuat nya keluar dari rumah sebentar, lalu masuk lagi ke rumah… . Jika saya teruskan, apalagi saya sendiri .. tentu sangat riskan dan berbahaya. Makanya saya ajak saja bang Adi ke bang Abu.. jika bisa sekalian dengan bang Ardi untuk menangkap Kuntilanak bertubuh merah membara itu…”.

Abu Abu terdiam sesaat, dia berpikir.. memang betul yang dikatakan oleh Budiman. Ia melihat sosok Kuntilanak, hanya menjadi pikirannya.. kenapa tubuh kuntilanak itu berwarna merah ? Dulu seingatnya ada salah satu teman di SKB bercerita.. saat bermobil ia pernah diikuti oleh Kuntilanak Merah. Biasanya yang terlihat oleh Abu Abu adalah kuntilanak dengan wajah putih pucat.

“Baiklah, saya coba menghubungi Ardi untuk berkumpul bersama kita..”, Abu Abu kemudian berkata setelah berpikir sejenak setelah mendengar uraian cerita dari Adi dan Budiman. Ia kemudian melanjutkan kalimatnya..

“Energi Ardi sangat unik karena didapat dari bermacam-macam sumber dan selanjutnya digabungkannya untuk disempurnakannya lagi.. “.

Budiman mengangguk setuju, ia ingin kuntilanak itu dimasukkan dalam kurungan gaib saja agar tidak mengganggu orang kedepannya… jika hanya diusir tentu kejadian seperti Adi akan terulang kembali. Abu Abu mengambil handphone dan ia berkirim pesan saja ke Ardi. Setelah berkirim pesan singkat, mereka berbincang-bincang kembali membicarakan kuntilanak dan kejadian yang menimpa Adi sekeluarga.
Di tempat yang berbeda, Ardi saat itu sedang membantu pak Rasyidi mengobati seseorang yang terkena santet / kiriman gaib. Ada suara pesan masuk dalam handphone nya, Ardi membaca pesan dan ia kemudian duduk bersila memusatkan energy bathin untuk berkomunikasi dengan Andari sang Bidadari untuk membantu apa yang telah disampaikan Abu Abu melalui pesan singkat. Saat itu dalam pikiran Ardi, Abu Abu meminta bantuan untuk mengusir kuntilanak dari rumah Adi.. sementara dia masih disibukkan membantu pak Rasyidi.

Andari tidak berada di Kahyangan, tetapi ada diatas langit Indonesia.. ia mendengar permintaan bantuan dari Ardi.. kemudian dengan mengendarai awan putih Andari pun turun ke kota Ketapang langsung menuju rumah kontrakan Adi. Ia tidak turun sampai ke tanah tetapi melayang beberapa meter dari tanah dan tetap berdiri diatas awan nya.

Kuntilanak yang berada didalam rumah merasa ada suatu kekuatan dahsyat mempengaruhi kekuatannya di rumah dimana dia tinggal. Sebenarnya rumah kontrakan Adi belum lama ditinggalinya, ia terusir dari suatu tempat oleh doa-doa masyarakat yang terganggu oleh tindakannya. Hingga akhirnya ia menemukan tempat yang dirasa cocok baginya  yaitu rumah kontrakan Adi. Tujuan nya sendiri adalah ingin membuat suatu kekuatan tersendiri di Kota Ketapang, hanya tidak mudah baginya untuk melaksanakan tujuannya itu. Di kota ini banyak manusia yang memiliki kemampuan lebih, ia harus berupaya keras agar tujuannya tercapai apapun caranya.

Karena merasa ada kekuatan yang mengganggunya, ia ingin tahu siapa yang datang.. saat keluar bukan main terkejut kuntilanak itu. Dia melihat seorang Bidadari sedang menatap dirinya, tak mau beresiko menghadapi seorang Bidadari.. ia pun secepat kilat kabur dari rumah Adi. Dia sudah cukup tua dan tahu bagaimana kekuatan Bidadari jika ia mulai mengangkat tangannya. Para Dewa Dewi saja sangat takut kepada para Bidadari apalagi makhluk seperti dirinya.

Melihat kuntilanak itu kabur dari rumah Adi, Andari pun kembali naik keatas langit dengan awan putih yang selalu berada di kakinya. Sedangkan kuntilanak itu setelah lari jauh dan melihat Andari juga terbang naik keatas langit, ia kemudian kembali lagi dan berdiri di belakang sudut sebelah kiri pada sebuah gedung dipinggir jalan tempat Adi bekerja (rumah Adi dan kantornya berdekatan). Ia masih menimbang-nimbang apakah ia akan kembali atau tidak ke rumah Adi yang sudah dirasanya tepat untuk tinggal disana. Namun, ia pun merasa jeri jika Bidadari yang ditemuinya kembali datang lagi.

Sementara itu, setelah membantu Rasyidi mengobati pasien.. Ardi pergi ke rumah Abu Abu. Saat itu pun ia sudah berbincang-bincang dengan ketiga orang yang sedang menunggunya datang.
Setelah mengetahui jalan cerita dari pertama hingga terakhir tentang kuntilanak itu, Ardi mulai bersiap-siap untuk melakukan upayanya.

“Jadi, akan dimasukkan ke dalam kurungan kah bang Abu ?” Tanya Ardi.

“Iya, dimasukkan saja kesana.. nanti kelanjutannya akan kita pertanyakan kepada pak Haji Guru Besar..”, ujar Abu Abu.

Ardi kemudian bersila untuk mengungkapkan kekuatan energi nya yang disimpan dan dikecilkan hingga sebesar inti atom.. sedangkan Abu Abu dan Budiman mengawasi secara langsung tindak tanduk kuntilanak yang masih berada di teras atas belakang kantor nya Adi. Setelah mengungkap kekuatan energi nya.. Ardi memandang kepada Kuntilanak itu, bagi mereka bertiga (Ardi, Abu Abu dan Budiman) sudah tidak ada lagi batas ruang antara mereka dengan kuntilanak tersebut.

Merasa diperhatikan, si kuntilanak segera bersiaga dengan mata merah menyala dan tangannya mulai siap mencakar.. kukunya kuntilanak sudah sangat terkenal akan ketajamannya. Ilmu dari kuntilanak ini juga sangat tinggi dan usia nya pun sudah sangat tua, apalagi ia telah di susupi oleh Jin Ifrit.. sehingga tubuhnya kemerah-merahan karena pengaruh kuat dari Jin Ifrit itu… makanya banyak orang yang mengatakan jenisnya adalah jenis Kuntilanak Merah. Padahal kuntilanak itu semuanya sama saja dan yang berbeda adalah kemampuan yang dimilikinya. Mengenai Jin yang menyusupinya.. siapa yang tidak mengenal dengan Jin Ifrit yang terkenal paling kuat dari seluruh Jin yang ada dimuka bumi ini. Dapat dibayangkan betapa saktinya kuntilanak itu dan mereka termasuk tipe penjelajah bumi yang sangat berbeda dengan kuntilanak biasa yang sering ditemui oleh masyarakat.

Ardi kemudian mencoba menggapai kuntilanak dengan kekuatan energi membentuk bagai telapak tangan raksasa, Kuntilanak itu memberontak mencakar-cakar sewaktu terpegang oleh Ardi. Pertarungan kekuatan terjadi.. Ardi menyeret kuntilanak ke arah kurungan gaib yang tersimpan disebelah rumah si Mas..

“Bang,.. terlepas ..!!” Suara Budiman memecahkan kesunyian di ruangan itu. Abu Abu dan Adi menoleh ke Ardi yang mengangguk membenarkan perkataan Budiman.

“Benar-benar kuat kuntilanak ini… beda sekali dengan yang biasa saya temui selama ini..”, ujar Ardi.

Ia kemudian membesarkan kembali kekuatan energi nya yang diperhitungkan dengan kekuatan kuntilanak sewaktu melawannya tadi. Ardi sudah memahami berpa besar kemampuan kuntilanak itu.
Sementara.. setelah terlepas dari pegangan Ardi, si Kuntilanak kembali ketempatnya semula. Ia sangat marah dan sudah mengerahkan hingga pada puncak kekuatannya barulah ia bisa melepaskan diri. Nafasnya menderu karena akibat meronta dan marah. Saking marahnya ia berteriak melengking untuk melepaskan kekesalan karena merasa hampir tak berdaya oleh kekuatan manusia. Namun baru beberapa saat saja, tiba-tiba ia terpegang lagi…..

Rupanya Ardi telah meningkatkan energi nya segera meraup kuntilanak itu dengan cepat, karena khawatir ia akan terbang jauh ataupun lari menjauh. Betul-betul tak berdaya kuntilanak bertubuh merah yang meronta sekuat tenaga walaupun sudah melambari tubuhnya dengan kemampuan dan kesaktiannya. Ia hanya mampu menggigit, mencakar dan berteriak…. Tapi kekuatannya jauh dibanding dengan kekuatan yang dikerahkan oleh Ardi walau itu hanya seperbagian dari kemampuan Ardi. Pintu kurungan otomatis terbuka dan kuntilanak itu tersedot ke dalam kurungan.

Tak ada satupun yang yang dapat keluar dari kurungan itu jika telah masuk kedalamnya.. termasuk kuntilanak burtubuh merah, kurungan itu tak goyah sedikitpun sewaktu ia berusaha menggguncang-guncangkan kurungan itu. Semua penghuni di kurungan hanya bisa menatap penghuni baru yang baru masuk, pikir mereka adalah.. lama kelamaan akan letih sendiri.

Ardi bertanya kepada Abu Abu …

“Sudah masukkah kuntilanak nya, bang..?”

“Ya, sudah..”.

Sudah aman bang Adi..”, ujar Budiman menimpali Abu Abu..

Ternyata di ruang tersebut telah hadir pak Haji Guru Besar yang bertanggungjawab terhadap kurungan itu. Setelah bertukar ucapan salam, mereka kemudian menceritakan kepada beliau mengenai penghuni baru yang berada dalam kurungan. Beliau kemudian bertanya kepada Abu Abu akan diapakan penghuni tersebut. Karena baik kuntilanak bertubuh merah dan 4 tuyul termasuk yang tidak bisa dididik menuju kebaikan.

Abu Abu terdiam beberapa saat, apa yang harus dilakukan terhadap 2 jenis mahluk tersebut. Jika dilepaspun tentu akan berbuat kejahatan lagi. Akhirnya tiada jalan lain, walaupun dengan berat hati ia kemudian membuat keputusan namun keputusan itu akan dilaksanakan oleh pak Haji Guru Besar, yaitu di kembalikan kepada Yang Maha Pencipta.

Semua yang hadir setuju dengan apa yang menjadi keputusan Abu Abu. Pak Haji Guru Besar pun akan melaksanakan nya saat sebelum Adzan Subuh keesokan harinya bersama-sama sebagian dari masyarakat Kerajaan Padang 12…

-----------

Banyak yang sudah tahu ujud dari Kuntilanak itu perempuan dengan wajah pucat dan berbaju putih, bermacam-macam sebutannya untuk sosok kuntilanak. Bahkan di Malaysia terkenal dengan hantu puntianak, tetapi tidak ada yang tahu darimana atau asal usul nya hantu kuntilanak atau puntianak itu.


Abu Abu kemudian akan meluruskan asal mula kuntilanak itu.. Kisahnya sebagai berikut :

Dahulu kala, di suatu kerajaan di Kalimantan Barat daerah pantai utara.. ada kejadian yang sangat memalukan, kejadian ini dilakukan oleh salah seorang putri dari kerabat keluarga kerajaan itu. Si putri itu hamil diluar nikah, tindakan yang dilakukannya itu merupakan aib besar bagi keluarga kerajaan yang menjunjung tinggi etika kehormatan. Pendek cerita, karena khawatir mencemarkan nama baik keluarga dan saat itu si putri pun dalam keadaan bingung untuk memutuskan sikap.. diam-diam ia berangkat menuju arah Pontianak

Sesampai nya di daerah air hitam, si putri menyeberang ke sebuah pulau di tengah-tengah sungai Kapuas yang dekat dengan muara sungai. Pulau itu jarang dijamah oleh manusia, disanalah ia mengasingkan diri hidup sebatang kara.

Dulu kehidupan si puteri sungguh enak dilingkungan kerajaan, dia di sayang oleh kedua orang tuanya dan lingkungan kerajaan karena kecantikannya. Hingga pada suatu saat ia jatuh cinta dengan seorang lelaki yang akhirnya mereka melakukan perbuatan terlarang yang membuatnya hamil. Si lelaki pun seolah tidak tidak perduli untuk bertanggung jawab akan perbuatannya dan akhirnya si puteri harus menanggung derita seorang diri hingga sampai lah ia sekarang ditempat yang jauh dari kehidupan nya dahulu.

Mengingat masa-masa indah nya, si puteri sering menangis dan bersedih hati.. begitu malang nasibnya dan betapa sulitnya hidup seperti saat ini. Jangankan untuk makan sehari-hari, makan sekalipun ia harus berupaya sendiri. Bulan demi bulan terlewati, tubuh cantiknya semakin tertutupi oleh rambut panjang nya yang kini tak teratur.. sementara perutnya semakin lama semakin membesar tetapi juga ia semakin kurus. Di pulau itu nyamuk agas sangat banyak sekali, membuat nya sering sakit-sakitan. Kadang kala jika teringat kesalahannya si puteri sering menangis, kadang tertawa dan berteriak-teriak. Tetapi siapa yang dapat mendengarnya..? Walaupun ia mampu berteriak setinggi langit ataupun menangis hingga berhari-hari.

Akhirnya, pada suatu saat … karena tidak mampu menanggung derita si puteri itu meninggal dunia karena sakit dan merana. Tak ada tempat kuburnya, meninggal begitu saja tanpa ada yang tahu. Si puteri meninggal dalam keadaan tidak wajar.. kondisinya pun sedang hamil besar dan siap melahirkan, tetapi karena tidak tenang dalam meninggalnya.. pada malam hari setelah siang ia meninggal, si puteri tiba-tiba bangkit dari kematiannya.

Dia bangkit dari kematian yang tak wajar, pertama yang ditujunya adalah sebuah pohon besar dekat pondok rumahnya. Pohon itu paling tua di pulau tersebut dan ditengah batang pohon terdapat lubang yang cukup besar, entah pohon apa namanya.. dan tinggalah ia disana. Karena sudah siap melahirkan, hantu si puteri itupun akhirnya melahirkan di lubang pohon itu. Anak yang dilahirkan seorang laki-laki dan di beri nama oleh nya si Bahar. Boleh dikata si Bahar ini sebenarnya masih manusia walaupun dia hidupnya gaib atau bisa tidak tampak dilihat oleh manusia biasa.

Kadangkala hantu si puteri ini sering terlihat oleh nelayan yang kadang singgah di pinggir pulau tersebut sambil menggendong si Bahar yang masih bayi, sehingga orang kampung setempat menyebutnya KUNTI ANAK atau perempuan yang menggendong anak atau dalam bahasa Malaysia PUAN ANAK hingga menjadi kalimat KUNTILANAK atau PUNTIANAK. Itulah asal mula penyebutan KUNTILANAK atau HANTU PUNTIANAK.

Tahun demi tahun berlalu hingga si Bahar tumbuh semakin dewasa dalam asuhan ibunya si kuntilanak. Karena tak ada yang menjadi panutan dalam hidupnya, apalagi tatakrama dalam berkehidupan sebagai manusia.. si Bahar sangat kejam dan lebih seperti orang tak beradat. Karena sudah dewasa dan timbul nafsunya, ia mengawini si ibu yang mengasuhnya selama ini.

Mereka bertindak sudah layaknya seperti hewan, karena melakukan perbuatan yang dilarang. Bagaimana si Bahar bisa tahu jika yang dilakukan itu perbuatan yang salah, karena salah dan benar tak didapatnya selama hidupnya itu.

Dari hasil perkawinannya lahir lah anak-anak nya. Tidak ada yang lahir lelaki semuanya perempuan dan semuanya seperti ibunya atau neneknya juga. Tahun demi tahun terus begitu, hingga begitu anaknya atau keturunannya telah dewasa dan jika ingin memiliki keturunan mereka akan meminta kepada si Bahar untuk dibuahi. Betul-betul bagaikan kehidupan hewan.

Keturunan si Bahar kadang kala juga menyeberang ke tempat penduduk, mereka sering mengintip para lelaki mandi dan senang melihat kemaluannya untuk selanjutnya dimakan oleh mereka. Karena hanya si Bahar lah lelaki satu-satunya di tempat mereka sehingga mereka suka melihat lelaki lain dan menggodanya.
Karena semakin lama semakin banyak jumlah keturunannya, Si Bahar mendirikan Kerajaan Kuntilanak di tempatnya lahir, yaitu di pohon besar yang berlubang itu. Ia melakukan kerjasama dengan Jin Ifrit.. salah satu jenis Jin yang terkuat dari jenisnya. Jin ini merasuki dalam tubuh keturunan si Bahar dengan tujuan adalah memperluas wilayah kekuasaannya, karena dengan dirasuki oleh Jin Ifrit membuat kuntilanak-kuntilanaknya dapat terbang melintasi daratan yang lebih jauh. Tubuh kuntilanak yang dirasuki oleh Jin Ifrit membuat kulit mereka yang putih pucat menjadi merah membara dan ilmu mereka pun sangat tinggi.

Si Bahar sebenarnya tidak suka dengan kehadiran manusia membuat kerajaan di dekat kekuasaan nya. Ia ingin menguasai Kerajaan Pontianak yang kala itu baru saja berdiri, karena sewaktu memasuki perairan sungai Kapuas.. para pendatang itu menembaki keturunannya dengan meriam hingga mereka terpontang-panting lari ketakutan. Padahal mereka sebenarnya sangat ingin tahu mengapa ada banyak manusia yang menggunakan perahu-perahu besar memasuki perairan dimana daerah tersebut menjadi wilayah kekuasaan si Bahar.

Si Bahar pun memerintahkan para pasukan kuntilanaknya untuk mengganggu para manusia yang telah mendirikan Kerajaan dipinggir sungai Kapuas. Berbagai cara dilakukan oleh para kuntilanak biasa maupun kuntilanak yang telah dirasuki oleh Jin Ifrit yang membuat masyarakat menjadi takut. Sehingga membuat Raja Kerajaan Pontianak kewalahan oleh gangguan para Kuntilanak dan akhirnya meminta bantuan kepada Kerajaan Mempawah yang kala itu diperintah oleh Opu Daeng Menambon. Raja Pontianak sendiri masih ada hubungan kekerabatan dengan Opu Daeng Menambon.

Dengan dibantu dari kerajaan-kerajaan lain, Opu Daeng Menambon akhirnya dapat memenjarakan Si Bahar dengan pagar gaib nya. Sampai sekarangpun Si Bahar Raja Kuntilanak tidak dapat meninggalkan pulau nya akibat terkena pagar gaib Opu Daeng Menambon yang sakti. Namun Si Bahar tetap memperluas wilayah kekuasaan nya sampai  ke seluruh dunia dengan kuntilanak-kuntilanaknya yang sakti. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan baru di seluruh permukaan bumi dengan dibantu oleh Jin Ifrit.

Tetapi kuntilanak-kuntilanak liar juga ada seperti apa yang pernah terjadi pada si puteri.. ibu nya si Bahar. Namun tidak seperti kejadian si Bahar, mereka menjadi hantu kuntilanak biasa. Kuntilanak keturunan dari si Bahar bila kepalanya di pasak dengan paku beliung, mereka akan menjadi manusia normal dan dapat menjadi istri bagi yang berani atau dapat memakunya.. karena sejatinya mereka yang keturunan si Bahar adalah manusia biasa.

Hingga kini pusat kerajaan Kuntilanak masih tetap ada dengan raja yang terpenjara nya yaitu si Bahar yang berada di sebuah pulau, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Saat ini banyak cerita tentang kuntilanak yang tersebar, baik di buku-buku, film, blog atau manapun tetapi tidak dapat menjelaskan awal mulanya kuntilanak itu sendiri. Mudah-mudahan hikayat ini dapat ditarik manfaat yang baik dalam kehidupan kita, agar kita semakin dapat memaknai arti kehidupan yang banyak tidak kita ketahui dan masih menjadi suatu rahasia alam..

----------------

Sebelum Adzan Subuh, di rumah si Mas telah berpuluh-puluh orang berkumpul dari Kerajaan Padang 12, disana juga hadir para pembesar dari kerajaan, Abu Abu, Asri, 8 Dara Bunian dan Utusan dari Kerajaan  Bawah Air… mereka terlihat khusuk membaca ayat-ayat suci Alquran untuk mengembalikan Kuntilanak bertubuh merah keturunan si Bahar dan 4 tuyul kepada Sang Maha Pencipta…. Selang beberapa saat tubuh kedua jenis makhluk itu bersinar merah muda terang dan hancur menjadi debu dan naik ke langit…
Kuntilanak bertubuh merah dan 4 tuyul telah hilang dari kurungannya tinggal lah makhluk jejadian lain yang masih ada namun mereka sudah dalam keadaan sangat ketakutan.

Selanjutnya orang-orang bunian kebenaran itu melanjutkan dengan kegiatan ibadah sholat Subuh berjamaah setelah berkumandangannya Adzan Subuh…..

Beberapa saat lalu pak Rasyidi dan teman-teman yang lain datang bermain ke rumah si Mas, beliau mencoba untuk online di Grup Seri Kisah Bunian. Saat itu terlihat olehnya kurungan gaib yang sudah banyak diisi oleh makhluk yang aneh-aneh ujudnya. Beliau merasa kasihan, dengan pertimbangan yang matang pak Rasyidi berkomunikasi dengan pak Haji Guru Besar agar berkenan melepaskan mereka yang menghuni kurungan itu. Pak Haji Guru Besar ternyata menyetujui usul pak Rasyidi untuk melepaskan mereka, namun jika mengulangi perbuatannya lagi tentu tidak di kurung tetapi di kembalikan kepada Sang Maha Pencipta.

Kurungan gaib telah dipindah kan oleh Abu Abu ke atas atap rumah si Mas, namun dalam keadaan kosong tanpa penghuninya lagi. Tetapi beberapa saat ini terisi lagi, karena perbuatan jahat, iri dan dengki masih ada… 


Minggu, 13 Mei 2012

SERI KISAH BUNIAN : KERAJAAN BAWAH AIR / KANJENG RATU ( SERI II )



Ada hal yang cukup aneh, suatu hari Abu Abu melihat isi kurungan gaib tersebut sudah terisi oleh seekor Ayam Jago. Dilihat nya ayam jago itu, sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.. dalam hatinya ia berkata-kata :

“Sampai begitu perilaku orang yang memiliki kemampuan supranatural dalam mencoba kurungan gaib, sungguh tak dapat dimengerti dan apa gunanya ? Hhhhh… jika bukan mereka ingin kejayaan duniawi yang semu tentu tak akan dicobanya, apalagi dengan mengirim yang aneh-aneh…”

Malam harinya, saat telah sangat larut.. seorang punggawa dari Kerajaan Bawah Air yang berujud ular besar dengan kulit hitam dan corak kuningnya sedang berjalan-jalan melintasi angkasa setelah selesai tugasnya mengawasi wilayahya di daerah Kendawangan sekitarnya. Saat melintasi kota Ketapang, terdengar olehnya ada suara yang memanggil meminta tolong dalam bahasa Ular. Sesaat ia terhenti sejenak, siapa yang memanggilnya. Terdengar suara itu lagi meminta tolong agar dibebaskan dari kurungan…

“Saudaraku, tolong lepaskan kami….”.

Punggawa itu bernama Ki Wanatala, dengan mata tajamnya akhirnya dapat dilihatnya ada sebuah kurungan yang bercahaya pada sebuah rumah yang berada dekat sungai Pawan. Dipandangnya lagi kurungan itu, namun pandangannya terhalang oleh sesuatu yang seperti kabut tipis. Ki Wanatala mencoba melakukan komunikasi dengan suara yang memintanya tolong tersebut :

“Siapakah kalian yang meminta tolong..?”

“Kami adalah bangsamu yang terkurung oleh suatu kekuatan jahat.. bantulah lepaskan kami..”.
Ki Wanatala tampak ragu-ragu, ia masih bertanya..

“Dari mana asalnya kalian ?”

“Kami berasal dari Tanah Jawa… bantulah lepaskan kami. Kami disiksa disini dan tidak diberi makan, kami mungkin akan dibunuh perlahan-lahan. Bantulah lepaskan kami ini…

“Apa yang diperbuat oleh kalian disini ? Ini jauh dari tempat kalian..”, Ki Wanatala masih tetap menyelidiki. 

Sebagai prajurit dari Kerajaan Bawah Air, Ki Wanatala cukup heran kenapa ular yang memintanya bantuan itu sampai berjalan ke Kalimantan dan hingga terkurung di tempat itu.. bentrok kah dengan si pemilik kurungan itu ? Ia tidak memahami, namun sudah selayaknya ia memeriksa apa yang terjadi dibawah sana.

Sewaktu ia turun, di atap rumah ada seekor naga besar yang menjaga.. ya, dialah Antaboga yang semula terlihat seperti hiasan atap rumah. Begitu dilihatnya ada ular besar turun dari langit, Antaboga berdiri diatas kakinya dengan mata menatap tajam menatap ular besar yang turun dari langit. Cakar di kakinya sudah mencengkeram kuat pada atap rumah dan ekor nya yang besar mulai bergetar tanda bahwa ia dapat dengan cepat menyabet musuh dengan ekornya itu. 

Naga yang menjaga di atap rumah bernama Antaboga (bukan Antaboga dalam seri pewayangan), nama itu adalah pemberian Abu Abu kepadanya. Dimasa lampau.. pada zaman panglima dari tatar China yaitu Cheng Ho, Antaboga turut mendampingi sang Panglima melintasi samudra dan daratan. Ia merupakan manifestasi doa dari panglima Cheng Ho kala itu, sehingga muncullah seekor naga yang mendampingi sang panglima. Seiring dengan berjalannya waktu, ia telah dilupakan dalam beberapa abad lampau hingga Abu Abu memanggilnya dikala ia sedang bertapa pada sebuah gunung di Negeri China.

Kembali kepada kisah Ki Wanata yang turun dari angkasa dan bertemu dengan Antaboga… melihat ada naga yang sedang bersiap tempur. Ki Wanatala mengeluarkan tanda keprajuritannya dari Kerajaan Bawah Air.

“Selamat malam saudaraku Sang Naga…”. Ki Wanatala menyapa Antaboga.

“Malam juga, wahai prajurit dari Kerajaan Bawah Air.., apa gerangan yang membuat anda datang kemari.. ?“ Tanya Antaboga kepada Ki Wanatala.

“Terdengar suara meminta pertolongan saat saya sedang melintasi kota ini, yang ternyata berasal dari tempat ini….”.

“Benar sekali apa yang saudaraku sampaikan..”, ujar Antaboga.

“Mohon diIzinkan untuk melihatnya.. untuk mengetahui siapa mereka dan kenapa mereka sampai disini…”.

“Baik.. “, Antaboga menjawab permintaan Ki Wanatala, lalu lanjutnya, “silahkan Kisanak.. kurungan gaib itu cukup berbahaya untuk didekati, agar berhati-hati dan jangan ada berniat buruk. Saya tidak akan dapat membantu kisanak…”

“Dengan senang hati saudaraku.. terimakasih atas informasinya”.

Ki Wanatala pun merubah ujudnya menjadi sosok pria dengan pakaian prajurit khas Kerajaan Bawah Air dan ia meloncat turun kebawah. Sesampai dibawah, dilihatnya kurungan itu sangat kokoh. Didalam kurungan terdapat beberapa kurungan lagi dan banyak penghuninya… setiap jenis makhluk memiliki kurungan tersendiri sesuai dengan jenisnya.

Diperhatikannya satu persatu setiap kurungan itu, kebanyakan penghuninya sedang tidur.. tetapi ada juga yang sedang duduk-duduk melamun. Mata ki Wanatala berusaha mencari sosok dari suara yang memanggilnya tadi. Akhirnya dapat terlihat olehnya ada  dua ekor ular besar yang terkurung disana namun agak jauh, dia tidak cukup jelas memandangnya terhalang oleh makhluk-makhluk yang terkurung didepan nya.

Tiba-tiba terdengar sura desis ular dalam kurungan dan berbicara kepada Ki Wanatala :

“Kami ada dipojok kurungan Kisanak…, ada yang ingin kami ceritakan. Kemarilah..”

Ki Wanatala bingung, bagaimana mencapai kesana ? Karena melihat Ki Wanatala bingung tak tahu harus berbuat apa si ular yang terkurung berkata lagi..

“Kurungan ini tidak rapat dengan dinding kisanak, dengan ujud manusia kisanak dapat menghampiri kami dari samping.. kemarilah dan dengar lah kisah kami kenapa sampai dijerat dan dikurung disini”.

Salah satu dari Sepasang ular itu memberikan petunjuk kepada Ki Wanatala bagaimana caranya bisa mendekat ke mereka. Ki Wanatala melihat dinding rumah memang tidak menempel dengan kurungan gaib itu, dengan memiringkan tubuhnya ia kemudian menyisir kurungan gaib itu untuk mencapai ujung kurungan yang ditempati sepasang ular yang berbicara padanya.

Namun saat melintasi kurungan yang di huni oleh harimau, mendadak para harimau itu terbangun dan melompat terkejut. Radar mereka menangkap pergerakan makhluk dekat dengan dinding dan terbangun, karena terkejut dan juga karena mungkin frustasi lama terkurung… para harimau itu mudah tersinggung dan sensitive. Apalagi ada sesosok manusia gaib yang berusaha melintasi kurungan dekat dengan mereka. Para harimau itu meraung, menggeram dan berusaha mencakar Ki Wanatala yang melintasi kurungan itu. Semua makhluk menjadi terbangun dan kandang itupun menjadi rebut hingga terguncang-guncang dengan hebatnya… semuanya terkejut dan marah.

Kasihan Ki Wanatala, ia tak menyangka jadi seperti itu… khawatir tercakar oleh para harimau dan panik akibat terkejut bukan kepalang. Ki Wanatala bergegas menjauhi kurungan para harimau dan saking tidak dapat menguasai dirinya tanpa sengaja Ki Wanatala berubah wujudnya menjadi ular besar. Sungguh tak dinyana, niat ingin mendapat informasi justru akhir nya Ki Wanatala mendapat petaka.. akibat perubahan ujudnya.. Ki Wanatala malah terjepit diantara kurungan dan dinding rumah.

Tiada yang tahu, yang menjaga kurungan pun sudah menjadi terbiasa oleh jeritan.. raungan dan suara kemarahan dari makhluk yang terkurung. Antaboga pun hanya diam saja, ia sudah cukup yakin jika Ki Wanatala tidak keluar.. pasti ia terkurung jikalau berbuat kesalahan. Ia tidak sampai berpikir jika Ki Wanatala hanya ingin mendapatkan informasi saja dan akhirnya sampai terjepit.. tak ada niat buruknya dengan kurungan dan penghuninya. Tetapi memang Ki Wanatala sedang apes.

Malam kedua setelah terjepitnya Ki Wanatala, di Kerajaan Bawah Air nun jauh dari Kalimantan sedang gempar.. Panglima Senopati belum mendapat khabar dan laporan rutin dari daerah Kendawangan Kalimantan Barat. Daerah itu terkenal aman dan tidak pernah terjadi suatu hal apapun dari zaman mulai berdiri Kerajaan Bawah Air hingga saat ini dan selalu aman aman saja wilayah itu.. adalah sungguh sangat mengherankan bagi Panglima Senopati.. bahkan firasat atau pertanda sebelum terjadi tidak didapatnya. Biasanya ia telah mendapat suatu tanda jika akan terjadi gejolak di wilayah Kerajaan Bawah Air yang menguasai sebagian besar wilayah Air Bumi hingga daerah yang berbatas Kerajaan Besar yaitu Kerajaan Air (Iblis) Ujung Dunia di wilayah Puerto Rico di Samudera Atlantik. 

Panglima Senopati sangat berhati-hati dalam tindak tanduknya dan selalu mengawasi sendiri seluruh wilayah Kerajaan. Hubungan dengan Kerajaan gaib dimuka bumi selama ini berjalan dengan baik, saling hormat menghormati. Tidak pernah terjadi peperangan, sama seperti dengan Kerajaan Bunian lainnya di suluruh dunia. Kerajaan Bawah Air juga merupakan Kerajaan Bunian terbesar yang berpusat di dasar Samudra Pasifik, mereka selalu taat beribadah dan tidak pernah berbuat ataupun melanggar apa yang dilarang oleh Yang Maha Kuasa. Jika ada yang meniru dan mengatas namakan mereka tentu sangat banyak dilakukan oleh mereka yang bukan Bunian Kebenaran. Boleh dikata Kerajaan Bawah Air merupakan Kerajaan Orang Bunian Kebenaran yang selama ini banyak di salah sangkakan dengan perbuatan yang jauh dari azas sifat Kebenaran.

Setelah melapor kepada Kanjeng Ratu untuk meminta izin beliau, Sang Panglima pergi ke Kalimantan untuk mencari salah satu punggawa kerajaan yang hilang.

Sementara itu jauh di Ketapang, Kalimantan Barat. Abu Abu sedang duduk menghadap komputer seperti biasanya. Ia senang menulis apa yang terjadi berkenaan dengan perihal yang berhubungan masalah gaib pada kehidupan sehari-hari manusia, namun ia lebih fokus pada kejadian pada teman-temannya ataupun pada diri sendiri serta kejadian di Negeri Bunian yang bertujuan meluruskan pendapat orang-orang pada umumnya. Sehingga tidak terjadi silang saling pendapat.

Dengan semakin banyak penghuni kurungan gaib, oleh pak Haji Guru Besar ditempatkan lah beberapa penjaga yang secara bergilir bergantian menjaga kurungan itu. Dari bagian depan hingga kebelakang kurungan pun telah dijaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin beliau sudah menduga akan terjadi sesuatu. Abu Abu pun telah diinformasikan oleh beliau mengenai penjagaan tersebut.

Saat sedang berkutat dengan komputernya, mendadak Abu Abu merasakan ada suatu kekuatan dahsyat. Sejenak ia berhenti dan berpikir kekuatan siapa yang dirasakannya ini. Belum pernah ia merasakan kekuatan ini sebelumnya. Tubuhnya serasa bergetar akibat tabrakan pancaran energi pendatang dan energinya sendiri, ia melihat ke kurungan gaib dan ternyata tidak ada suatu hal yang aneh dengan kurungan itu. Mencari ke sekeliling nya juga tidak ada, sampai ia menembus lapisan tanah untuk melihat … dan ternyata tidak ada juga. Begitu matanya menatap ke atas, ia terkejut bukan kepalang…..

Jauh tinggi di bawah langit ke-empat tempat bersemayamnya para bidadari dan lebih tepatnya di alam para Dewa Dewi, terlihat sosok ular yang sangat besar berwarna kuning keemasan. Ular itu terlihat sangat anggun dan indah, tubuhnya cenderung mirip naga.. hanya bedanya ukar yang berkulit keemasan itu tidak memiliki kaki layak nya naga seperti Antaboga. Ternyata pancaran energi itu berasal dari sang ular yang berwarna kuning keemasan.

Abu Abu waspada, karena dari jauh saja ia sudah merasakan kekuatan ular tersebut. Ia juga menduga jangan-jangan ular tersebut ingin membebaskan rekan-rekannya yang terkurung. Abu Abu membuat sikap meditasi dan memanggil Sang Pendamping untuk menghalau Ular Kuning Keemasan itu menjauh.

“Assalamualaikum, Eyang.. .”

Sang Pendamping datang dalam sekedipan mata dan membalas salam Abu Abu

“Waalaikumsalam Warrahmatulahi Wabarrakatuh, Jebeng… Ada apa engkau memanggilku ?”

“Jika Eyang berkenan, saya ingin mengutus Rajawali milik Eyang untuk menghalau ular besar yang berwarna keemasan di atas langit itu..”. Ujar Abu Abu sambil melihat keatas langit. Sang Pendamping hanya tersenyum dan manggut-manggut. Entah apa yang ada di dalam pikiran Sang pendamping nya itu dan tersenyum saja melihat Abu Abu yang gelisah.

Dengan merapatkan kedua belah telapak tangannya didepan dada, Abu Abu berkonsentrasi memanggil para Rajawali milik Sang Pendampingnya.. . Hanya beberapa detik saja di ujung cakrawala langit Ketapang terlihat beberapa sosok burung yang sangat besar sekali terbang menuju langit tepat diatas Abu Abu dan Sang Pendampingnya duduk. Ada empat Rajawali Raksasa yang melayang dan kemudian berputar-putar diatas tempat nya Abu Abu.

“Naik lah keatas lagi.., halau ular besar itu..”, perintah Abu Abu kepada ke empat Rajawali. Namun mereka hanya bisa berputar-putar saja. Sepertinya tidak bisa naik lagi, ular besar itu hanya memperhatikan saja. Ia tidak beranjak atau terpancing sedikitpun dengan kedatangan para Rajawali itu, karena para burung itu tidak bisa naik lebih tinggi menggapai tempatnya saat itu. Rajawali raksasa hanya bisa berputar-putar saja dan akhirnya Abu Abu memerintahkan agar pra Rajawali itu kembali keasalnya semula.

Dipandangnya kembali ular besar yang berwarna keemasan, kemudian ia berkata kepada Sang Pendamping..

“Apa yang harus saya lakukan Eyang ?”

“Bersabarlah Jebeng… , dia hanya melihat saja dan tidak mengganggumu..”.

“Tetapi Eyang, saya khawatir sekali.. energi ular itu sangat kuat hingga tubuh saya terasa bergetar..!!”
Sang Pendamping tersenyum melihat Abu Abu penasaran dan katanya kemudian..

“Sepertinya tak ada niat buruk darinya… jangan berprasangka buruk, Jebeng.. bukankah engkau ingin berlaku sabar dan bijak. Jangan engkau turuti hawa nafsu, antara hawa nafsu dan hati nurani sangat tipis perbedaannya..”.

Abu Abu terdiam mendengar nasihat Sang Pendamping, kemudian dilanjutkan kalimatnya kepada Abu Abu..

“Jangan menilai siapapun dari fisiknya, Jebeng… Eyang melihat engkau melihat ujud nya Ular dan Energinya diatas kemampuanmu, langsung engkau sudah dapat mengambil kesimpulan… . Biarkan lah, amatilah lalu bertanyalah dan setelah itu engkau dapat menggunakan hati nurani mu dalam mengambil sikap…”.

Abu Abu mengangguk-angguk, membenarkan ucapan Sang Pendamping. Ia menghela nafas, merasa salah telah mengambil tindakan yang terbawa hawa nafsu bukan dengan hati nuraninya. 

“Maafkan saya Eyang..”, ucapnya kemudian. Sang Pendamping mengangguk-angguk, senang Abu Abu memahami ucapannya. Tak lama Sang Pendamping bangkit berdiri dan berkata kepad Abu Abu..

“Eyang pulang dulu, Jebeng.. , jika akan terjadi sesuatu tentu Eyang akan datang tanpa engkau panggil..”.

“Baik Eyang, terimakasih dengan apa yang telah disampaikan ke saya..”. Ucap Abu Abu sambil mencium tangan Sang Pendamping.

“Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh..”.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabbarakatuh, Eyang..!”

Sang Pendamping pun lenyap dari pandangan Abu Abu. Kemudian ia memanggil kembarannya, Antaboga, Nagagini (dari Kerajaan Sapta Pertala), SAX, Asri, Si Hitam Harimau Kumbang dan para penjaga Kurungan Gaib dari Padang 12 untuk bersikap waspada dan berjaga-jaga. Jika terjadi sesuatu agar disampaikan kepadanya. Setelah memberikan pesan kepada mereka semua, Abu Abu berpamitan untuk istirahat karena keesokan harinya ia sudah akan bekerja sebagaimana biasanya.

Malam pun tambah semakin larut, namun tidak terjadi suatu apapun pada malam itu. Ternyata yang berujud ular besar berwarna kuning keemasan adalah Panglima Senopati dari Kerajaan Bawah Air. Sang Panglima sudah menemukan punggawa nya, ia sepertinya terjepit dalam Kurungan Gaib yang berada di sebuah rumah yang dalam pengawasan Kerajaan Padang 12. Tentunya ia tidak dapat bertindak gegabah karena antara Kerajaan Padang 12 dan Kerajaan Bawah Air merupakan satu kesatuan di bawah Nilai Kebenaran. Sama-sama berasal dari Manusia Bunian Kebenaran, sehingga ia hanya melihat dari atas saja dan ketika ada burung Rajawali yang ingin menghalaunya.. Sang Panglima tetap tenang saja karena letaknya tak dapat digapai oleh burung yang sakti itu.

Sang Panglima Senopati merupakan kepercayaan dari Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air yang sangat terkenal. Sedangkan Kanjeng Ratu sendiri boleh dikata tidak pernah keluar dari kerajaannya kecuali dalam urusan kenegaraan. Kanjeng Ratu merupakan Manusia Bunian Kebenaran yang namanya sering disalahgunakan dan disalah artikan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, bahkan ada yang mendewakannya atau memujanya. Beliau tidak pernah menyakiti atau meminta apapun kepada makhluk lain, tutur kata nya sangat halus dan jauh dari gambaran yang pernah dibuat orang dengan lukisan ataupun kata-kata. Jika ada yang mengatasnamakan beliau hingga meminta yang bukan merupakan sikap Kebenaran maupun Ke Tuhanan, bisa dipastikan itu bukan Kanjeng Ratu. Manusia Bunian Kebenaran yang ada diseluruh dunia tidak pernah dan tidak akan bersikap seperti itu.

Kembali kepada Sang Panglima Senopati yang masih di atas langit Ketapang, dimana sang Panglima hanya berdiam diri dan berpikir apa yang menyebabkan punggawanya sampai terjepit di kurungan itu. Salahkah yang diperbuat punggawanya itu ? Apa yang diperbuatnya di bawah ? Ia juga melihat Abu Abu di rumahnya yang berkaitan dengan Kurungan Gaib. Namun ia hanya ingin tahu, sebelum ia melapor kepada Kanjeng Ratu apa yang harus diperbuatnya nanti, karena si punggawa itu sudah masuk dalam wilayah Kerajaan Padang 12. Jika ia terburu dalam mengambil tindakan tentu ia akan dipersalahkan oleh Kanjeng Ratu yang sangat di hormati nya itu.

Keesokan harinya,… Abu Abu saat itu mampir di tempat kerja Budiman. Ia menceritakan kepada Budiman kejadian semalam, panjang lebar ia bercerita dan berkata kepada Budiman ..

“Coba lah lihat di langit kita itu, Man…”.

Budiman melihat ke angkasa dan betul apa yang dikatakan Abu Abu, terlihat sosok ular berwarna keemasan masih berada di atas langit. Ia masih melihat dan mengawasi kebawah apa yang sedang terjadi.

“Wah, bang.. saya merasakan ini lain dari yang lain. Energi nya sangat besar, tubuhnya juga mengingat kan saya ada yang seperti itu juga besarnya serta energinya juga sangat kuat..”. Budiman berkata kepada Abu Abu.

“Siapa itu, Man..?” Tanya Abu Abu.

“Sudah lama sekali, kejadiannya saat itu saya didatangi oleh beliau diminta untuk mengobati anak nya yang terluka parah…”, cerita Budiman. Abu Abu menggeser tempat duduknya untuk mendengar cerita Budiman lebih rinci. Budiman melanjutkan ceritanya..

“Tetapi apa yang mau dikata, sudah saya bantu semaksimal mungkin.. tetapi Allah yang punya kehendak, si Anak tak tertolong dan akhirnya meninggal. Namun beliau tetap bertrima kasih kepada saya dan memberikan cindera mata berupa keris bertahtakan emas berlian.. namun barang itu saya gaibkan karena khawatir menjadi perebutan manusia.. sehingga dapat menimbulkan bencana nantinya..!” Budiman menerawang mengingat kejadian yang telah lama lewat.

“Siapakah beliau itu ? Ular sebesar yang diatas langit itu juga ?” Tanya Abu Abu kepada Budiman seolah tak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita Budiman.

“Benar, bang.. Beliau berujud ular besar berwarna hitam, beliau lah yang menjaga Pulau Kalimantan ini dan dia sedang bertapa.. panjang tubuhnya dari ujung ekor sampai kepala dapat melingkari Pulau Kalimantan ini..”. Ujar Budiman.

Abu Abu tersentak kaget..

“Ahh, begitu besar dan panjang ular itu, Man.. . Apakah waktu itu kamu ada bertanya.. berasal dari Kerajaan mana beliau itu, Man ?”

“Saya tidak bertanya dan mana teringat bang untuk menanyakan dari kerajaan mana beliau itu bang..”.Jawab Budiman atas pertanyaan Abu Abu.

“Baiklah, bagaimana menurut kamu tentang Ular yang ada diatas langit itu ?” Abu Abu bertanya kepada Budiman, karena sampai saat ini saja tubuhnya masih terasa bergetar akibat energi yang dipancarkan oleh Sang panglima Senopati

“Mmhhh…. Saya pun tidak tahu bang, besar benar energinya, tetapi jika terjadi apa-apa gunakan semua yang ada pada bang Abu..”, Budiman sepertinya juga ragu.

“Ok. Baiklah , Man… saya mau jalan dulu…, Assalamualaikum!”

“Baik bang…  Waalaikumsalam..”. Budiman menjawab salam Abu Abu.

Abu Abu pun beranjak dari ruangan Budiman dan ia ingin pergi ke tempat pak Rasyidi, menanyakan perihal yang terjadi mulai dari kemaren malam hingga saat ini. Ia berharap pak Rasyidi ada dirumahnya. Kebetulan dari kantor Budiman dan rumah pak Rasyidi tak seberapa jauh, ditempuh dengan kendaraan hanya 5 menit saja.

Pak Rasyidi ternyata ada dirumah dan Abu Abu tidak sia-sia berjalan kesana, karena biasanya sangat sulit mencari pak Rasyidi. Beliau selain bekerja di kantor juga sering dipanggil oleh orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Namun saat itu pak Rasyidi sedang ada tamu, Abu Abu menunggu di ruang khusus tempat mereka biasa bersantai. Tubuhnya masih merasakan getaran, ia pun meminta kepada segelas air putih kepada istri pak Rasyidi… setelah tersedia, gelas air putih itu diletakkannya diatas meja dan kemudian ia duduk bersila sambil berdoa meminta bantuan kepada pak Haji Guru Besar agar  memberikan doa penenang hati.

Tak lama sebuah mobil Strada milik Pak Haji Guru Besar sudah parker dipinggir jalan depan rumah pak Rasyidi, beliau datang dan setelah uluk salam dengan pak Rasyidi dan Abu Abu… ia menuju gelas yang diletakkan diatas meja. Dengan membaca doa yang tak terdengar oleh Abu Abu, pak Haji Guru Besar mengisi air putih tersebut dengan doa penenang hati. Beliau kemudian meminta Abu Abu untuk meminum air tersebut.

Abu Abu beranjak dari duduknya dan mengambil air yang telah dibacakan oleh beliau. Dengan bacaan Bismillah.. ia meminum air tersebut dan.. tak lama tubuhnya sudah mulai tenang tidak bergetar kembali seperti tadi. Abu Abu mengucapkan terima kasih kepada pak Haji Guru Besar dan tak lama kemudian datanglah masuk ke ruang tersebut pak Rasyidi.. tampaknya tamu yang butuh pertolongannya telah kembali pulang..

Saat mereka duduk berdua dan bercanda seperti biasanya.. tak lama muncul seseorang tokoh pelaku seri kisah bunian juga yang kita sebut atau biasa dipanggil sebagai “Sang Penghubung”. 
Tokoh yang disebut Sang Penghubung ini memang tidak dapat disamarkan dengan sebuah nama, tetapi ini adalah permintaan dari Kerajaan Padang 12 dan Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air. Sehingga penulis tidak menyebutkan namanya.

Mereka duduk berempat, sambil meminum kopi yang disediakan oleh istri pak Rasyidi.. Abu Abu kembali bercerita kepada pak Rasyidi, pak Haji Guru Besar dan Sang penghubung dari awal hingga saat ini. 

Setelah mendengar cerita dari Abu Abu, pak Rasyidi menatap ke atas langit… lalu ia pun tersenyum dan berkata.. 

“Hanya melihat-lihat tak ada apa-apa, Abu..”, ujar pak Rasyidi.

“Apa maksudnya datang kemari..?” Tanya Abu Abu kepada pak Rasyidi.

Pak Rasyidi menoleh kepak Haji Guru Besar, “ada yang salah tangkap kah pak Haji..?”
Pak Haji Guru Besar melihat ke Kurungan Gaib, beliau meneliti satu persatu apakah ada yang salah tangkap di dalam kurungan. Beliau melihat di ujung kurungan agak miring ke kanan, ah ternyata ada seekor ular besar terjepit disana.

“Bukan salah tangkap pak Rasyidi..”, jawab pak haji Guru Besar, kemudian melanjutkan kalimatnya, 
“tetapi entah darimana hingga ada seekor ular terjepit disana…”.

Kemudian pak Haji Guru Besar melihat ke atas langit, beliau mengadakan pembicaraan kepada Sang Panglima Senopati.

“Assalamualaikum Warrahmutallahi Wabbarakatuh, Panglima.. “

Terdengar sang Panglima Senopati menjawab..

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabbarakatuh, Kyai Haji… bagaimana khabar nya..?”

Ternyata antara pak Haji Guru Besar dan Sang Panglima Senopati telah saling kenal…

“Ada apa gerangan yang membuat Panglima jauh-jauh datang kemari..?”

“Saya kehilangan seorang punggawa kerajaan yang bertugas di Kendawangan, terlihat oleh saya dia ada di bawah sebuah Kurungan Gaib…, saya juga tidak mengetahui kenapa sampai seperti itu..”.

“Oh, Ki Wanatala kah itu..?”

Pak Haji Guru Besar memang kenal dengan Ki Wanatala yang menjaga wilayah perairan di Kendawangan dan tentu saja Ki Wanatala sangat sering berhubungan dengan para petinggi di Kerajaan padang 12.

“Benar Kyai Haji, Ki Wanatala…”. Jawab Panglima Senopati.

Pak Haji pun terkejut, Ki Wanatala masih termasuk orang Bunian Kebenaran tetapi dari Kerajaan Bawah Air.

“Astaghfirullah… kenapa bisa terjadi seperti itu.., maaf Panglima Senopati akan kami bantu Ki Wanatala agar tidak terjepit di kurungan itu…”.

Pak Haji Guru Besar kemudian, berbicara kepada SAX yang saat itu berada dekat Kurungan Gaib. Beliau meminta SAX melepaskan Ki Wanatala yang terjepit diujung kurungan. Mendengar permintaan itu pun SAX dengan tubuh yang besar dan dengan kekuatan yang juga besar dengan mudahnya mengangkat Kurungan itu dan terlepaslah jepitan di tubuh Ki Wanatala dalam ujud ular. Setelah lepas Ki Wanatala mengangguk tanda ucapan terimakasih kepada SAX yang juga membalas dengan anggukan.

Ki Wanatala terbang ke angkasa menyusul Panglimanya yang menanti diatas.

Kemudian sebelum pergi, Sang Panglima Senopati menyampaikan ucapan banyak terimakasih kepada pak Haji Guru Besar dan teman-teman beliau yang ada saat itu serta permohonan maaf nya juga karena membuat resah teman-teman atau keluarga dari pak Haji Guru Besar. Sebelum melesat meninggalkan langit ketapang Sang Panglima Senopati sempat menitipkan pesan kepad pak Haji Guru Besar bahwa kemungkinan Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air akan berkunjung ke Ketapang menemui Raja Kerajaan Padang 12 dan Sang Penghubung.

Ternyata apa yang terjadi selama ini saat Sang Panglima berada di Kota Ketapang terus di pantau oleh Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air. Dengan bukti beliau menitipkan pesan ingin berkunjung ke Ketapang. Jadi sebelum Sang panglima melapor beliau sudah tahu apa yang sedang terjadi.

Pak Rasyidi juga mendengar pembicaraan antara pak Haji Guru Besar dengan Sang Panglima Senopati,.. pak Haji kemudian menceritakan kepada pak Rasyidi bahwa Sang Panglima Senopati itu adalah teman akrabnya juga. Terakhir Sang Panglima menyampaikan pesan bahwa Kanjeng Ratu akan mengunjungi Sang Penghubung.

Pak Rasyidi menoleh ke Sang Penghubung dan berkata..

“Bang, bersiap-siaplah nanti malam Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air akan berkunjung ke rumah abang..”. Pak Rasyidi tersenyum kepada Sang Penghubung.

Wajah Sang Penghubung terlihat pucat pasi… kenapa harus dia yang akan di temui oleh Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air ? Sang Penghubung tidak pernah berpikir sedikit pun tentang sosok yang agung itu mau menemui nya yang tak ada jabatan atau pangkat apapun apalagi jika dipautkan dengan Ilmu… Sang Penghubung tersenyum kecut.

Pak Haji Guru Besar melihat Sang Penghubung cemas, beliau lalu berkata kepada Sang Penghubung..

“Kepastiannya nanti, bang.., akan diberitahu kemudian…”.

Ia hanya mengangguk-angguk tanpa berkata apa-apa, hatinya diliputi kebingungan. 

Tak lama mereka berkumpul, hanya sebentar karena saat itu hari masih siang dan mereka kembali saat terdengar Adzan Dhuhur berkumandang. Mereka kembali ketempat masing-masing…

Pukul 15.00 sore hari, datang pak Ustadz Haji dan seseorang yang berpakaian kerajaan kerumah Sang Penghubung dan mengatakan Kanjeng Ratu akan datang bertemu dangannya, setelah menyampaikan pesan tersebut pak Ustadz Haji mengantarkan utausan dari Kerajaan Bawah Air kembali ke kerajaannya di dasar Samudera Pasifik.

Saat itu pukul 17.00 Sore hari, Sang Penghubung keluar dari rumah ingin mencari makanan untuk putra putrinya. Sesampai diluar rumah, ia terkejut.. karena di depan rumah nya sudah ada 3 orang prajurit dari Kerajaan Padang 12 yang berjaga-jaga di depan rumahnya dan tanah kosong depan rumahnya juga sudah terisi penuh dengan mobil-mobil mewah dari Jenis Pajero, Nissan dan banyak lagi tak dapat diingatnya (semua yang di lihat oleh Sang Penghubung adalah gaib) …  ia hanya tahu jika mobil yang terpakir penuh di depan rumahnya itu semua seperti mobil-mobil mewah yang ada di televisi. Diketapang tak pernah dilihatnya ada seperti itu. Sang Penghubung menoleh kekanan dan kekiri mencari pemilik mobil itu tetapi ia tak melihat nya… entah pada kemana mereka..

Ia menoleh ke atas rumahnya dan di sana telah berdiri seorang Dayang dari Negeri Kahyangan berjaga-jaga. Terbayang kembali akan ditemui oleh seorang Ratu, jantung Sang Penghubung serasa copot... saking takut nya ia memanggil-manggil semua pendampingnya.. semilir angin sejuk menerpa wajahnya dan disampingnya telah hadir 8 pendamping nya.

Sang Penghubung masih kurang yakin.. hatinya terasa tak menentu.. kembali ia memanggil sahabatnya 7 Bidadari Kahyangan... hanya beberapa saat saja dari atas langit tampak gumpalan awan berjalan menentang angin dan gumpalan awan itu turun ke bumi… di atas nya berdiri 7 bidadari. Barulah Sang Penghubung berani keluar rumah untuk mencari makanan dengan didampingi oleh 8 Pendamping dan 7 Bidadari.

Selepas shalat Maghrib, mobil-mobil mewah penuh sampai ke jalan utama. Jika orang yang mampu melihatnya tentu akan sangat terkejut bahkan akan takut. Begitu ketatnya penjagaan tersebut untuk menyambut kedatangan Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air. Wilayah Darat sudah di jaga ketat dan Wilayah Udara juga demikian semua terjaga rapat. Jika kita melihat kedatangan Presiden Amerika ke Indonesia, begitu ketatnya keamanan yang di jaga…. ini lebih berlipat-lipat lagi ketatnya.

Tak lama ada beberapa mobil datang masuk kejalan tempat tinggal Sang Penghubung, mobil didepan keluarlah Pak Haji Guru Besar, kemudian berturut –turut keluar Wakil dari Kerajaan Gunung Radak, Pak Ustadz Haji, 8 Dara dan lain-lainnya.. Mereka selanjutnya masuk kedalam rumah Sang Penghubung dan sebagian ada diluar menunggu kedatangan Kanjeng Ratu.

Suasana diluar sangat ramai sekali, banyak yang menunggu kedatangan Kanjeng Ratu yang sangat terkenal … mereka semua adalah masyarakat bunian di kota Ketapang. Karena mereka belum pernah melihat Kanjeng Ratu dari dekat, hanya mendengar cerita saja dari mulut ke mulut. Sungguh padat dan penuh manusia bunian kala itu.

Lebih kurang 15 menit kemudian terdengar bunyi gemerincing lonceng kereta, terlihat diujung jalan sebuah kereta kencana yang ditarik oleh 4 ekor kuda putih yang gagah perkasa. Kereta Kencana itu menebarkan aura kuning keemasan dan  berhenti di depan rumah Sang Penghubung. Dibelakang kereta tampak beberapa mobil pengawal Kanjeng Ratu dan dari Kerajaan Padang 12 mendekati Kereta Kencana itu.

Turun pertama dari Kereta Kencana adalah Wakil Raja Kerajaan Padang 12 dan kemudian keluarlah Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air dengan baju adat Jawa berwarna Kuning Keemasan dan Jarik Prada serta dengan mahkota tinggi keemasan.. sangat anggun dan menebarkan aura kewibawaan yang sangat tinggi. Suasana riuh rendah memanggil Kanjeng Ratu dari masyarakat bunian.. mereka mengelu-elukan kunjungan Ratu yang sangat cantik sekali dan anggun. Sang Kanjeng Ratu tersenyum ramah dan kemudian diiringi oleh Wakil Raja Kerajaan Padang 12 memasuki rumah Sang Penghubung.. didalam telah siap menyambut kedatangan beliau-beliau yang sangat dihormati.

Kanjeng Ratu kemudian dipersilahkan menempati kursi yang telah disediakan yang berada didepan Sang Penghubung, Wakil Raja Padang 12 duduk di sebelah kanan Kanjeng Ratu. Pak Haji Guru Besar dan pak Ustadz Haji berdiri disamping Wakil Raja Kerajaan Padang 12. Sedangkan Sang Penghubung duduk  bersama saudara kembarnya dan di kanan kirinya adalah para pendamping. 7 Bidadari duduk dibelakang para pendamping. Diruang tengah berkumpul putra Ustadz Haji dan 8 dara serta lain-lainnya. 

Terlihat Sang Penghubung agak takut-takut dan tegang untuk berbicara kepada Kanjeng Ratu, karena baru kali inilah dalam perjalanan hidupnya bertemu dengan orang yang sangat penting dan terkenal diseluruh bumi. Kanjeng Ratu sendiri dan Wakil Raja Kerajaan Padang 12 tersenyum-senyum melihat Sang Penghubung yang salah tingkah karena gugupnya. Ia merasa semua ketajaman indra nya tidak dapat berfungsi seperti biasanya, hanya mata dan pendengaran saja yang bisa dan mampu digunakan saat itu.

Kemudian terjadilah dialog antara Kanjen Ratu dengan Sang Penghubung.. inti dari pembicaraan tersebut bahwa Sang Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air sangat senang dan setuju sekali akan adanya blog yang menceritakan kebenaran dan juga meluruskan anggapan yang salah mengenai keberadaan Manusia Bunian Kebenaran, saat itu juga Kanjeng Ratu meminta untuk meluruskan juga anggapan yang keliru di masyarakat terhadap beliau dan kerajaannya. Karena Kanjeng Ratu Kerajaan Bawah Air dan Kerajaannya juga termasuk Manusia Bunian Kebenaran.

Singkat cerita, setelah terjadi dialog-dialog itu akhirnya Kanjeng Ratu berpamitan untuk mengakhiri kunjungannya. Saat beliau pulang bersama Wakil Raja Kerajaan Padang12, Kereta Kencana itu jalannya tidak seperti waktu datang yang berjalan mengikuti jalan biasa tetapi langsung terbang ke angkasa menuju Kerajaan Padang 12.

Sejak saat itu, Sang Penghubung menjadi mediator antara 2 kerajaan besar bunian. Maka hubungan antara 2 Kerajaan Besar dengan para pelaku kisah  dari Seri Kisah Bunian bertambah penuh warna. Kurungan Gaib sekarang tidak hanya dijaga dari Kerajaan Padang 12 tetapi secara bergiliran dijaga juga dari Kerajaan Bawah Air. 


Demikian lah dimulai suatu perjalanan baru dari Seri Kisah Bunian…….

Sabtu, 12 Mei 2012

SERI KISAH BUNIAN : KERAJAAN BAWAH AIR / KURUNGAN GAIB ( Seri I )



Beberapa minggu ini udara di kota Ketapang sangat panas dan bikin gerah, suhu AC sudah paling rendah pun sudah tidak terasa sejuk. Pemakaian alat listrik di setiap rumah menjadi lebih tinggi, sehingga tagihan bulanan ikut membengkak. Tak terkecuali Abu Abu, di ruang kerja nya kipas angin dari pagi hingga malam terus berputar, berhentinya paling sudah menjelang pagi. Seandainya kipas angin itu bisa bicara tentu akan mengeluh.

Dalam sehari-hari bekerja atau dirumah Abu Abu kurang begitu senang mendengar suara musik ataupun lagu, sehingga jika ia berada di depan komputernya tak ada suara apapun kecuali bunyi tuts keyboard komputer saja yang terdengar. Jiwa raganya pun seolah-olah ada dalam komputer yang digunakannya.. sehingga banyak teman-temannya sering mengatakan jika Abu Abu terkena Autis ( bukan arti sesungguhnya. Hanya bercanda yang berarti tidak perduli dengan lingkungan ).
Seperti biasanya sore hari setelah pulang dari bekerja Abu Abu sudah duduk menghadap komputer kesayangannya dan segera itu pula ia asyik menghadap layar komputer.

“trrrrrrt…trrrrrrt… trrrrrrt…” (suara HP yang disetel bergetar)
Ada panggilan di handphone nya yang terletak di sebelah kiri keyboard… Abu Abu menoleh untuk melihat panggilan dari siapa. Ternyata dari temannya, handphone itu diangkatnya..

“Assalamualaikum bang…”. Terdengar suara dari handphonenya.

“Waalaikum salam Wr. Wb. mas… “.

“Lagi apa tuh..?”

“Seperti biasa mas, hanya udara hari ini cukup panas.. . Ada apa ya.. ? “ Tanya Abu Abu kepada temannya.

“Begini bang Abu, saya ini terlintas suatu ide berkaitan dengan beberapa kegiatan gaib yang berniat buruk yang terjadi di tempat saya… serta beberapa kejadian yang sering juga terjadi di tempat bang Abu.. ”.

“Hmm…, ya,.. benar sekali ?”.

Abu abu mengangguk-angguk, ia mulai turun dari kursinya dan duduk dilantai bersandarkan ke dinding kamar kerja nya untuk mendengar kan apa yang menjadi ide temannya ini tentang hal yang gaib. 
“Ide saya sih bang, bagaimana jika dibuatkan semacam kurungan tetapi gaib.. dan tujuannya adalah menempatkan mereka yang berniat buruk kepada abang ataupun saya…”, si Mas teman Abu Abu menjelaskan tujuan nya.

“Kelanjutan nya nanti bagaimana, mas ?”

“Kita uji coba dulu lah bang, sukses apa tidak. ..”. Ujar si Mas.

“Bisa juga, saya coba saja nanti malam. Terimakasih untuk ide nya dan bagus juga.. saya sudah menangkap maksudnya…”.

“Baik, bang.. selamat mencoba semoga berhasil. Oh, ya.. penempatan kurungan bisa di tempat saya saja, lokasinya di tanah samping ruang kerja..”.

“Baik, mas…”.

“Assalamualaikum bang, Abu.. saya mau jemput anak les dulu..”. Si Mas pamit kepada Abu Abu.

“Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarrakatuh, selamat sore mas..”, jawab Abu Abu kepada temannya.

Ia pun beranjak untuk mandi sore karena sudah jam 17.00 sore dan dengan udara yang bikin gerah membuatnya ingin segera mendinginkan tubuhnya setelah seharian kerja.

--------------

Setelah menunaikan kewajibannya, Abu Abu kedatangan tamunya yaitu Ardi.  Mereka berdua memang akrab dan sudah seperti saudara,  sehingga baik Abu Abu maupun Ardi jika terjadi sesuatu hal mereka saling bahu membahu.

Saat itu mereka duduk di ruang kerja Abu Abu, seperti biasanya mereka duduk melantai sambil bersila, pisang molen dan secangkir kopi sebagai peneman ngobrol telah disiapkan oleh Abu Abu malam itu. Abu Abu menceritakan kepada Ardi tentang ide dari teman mereka si Mas tentang kurungan gaib dan menjelaskan kepada Ardi.

“Saya pikir itu sih sangat baik bang.. bisa saja di coba untuk membuat nya dengan bantuan pendamping abang..”, jawab Ardi setelah mendengar cerita dari Abu Abu. Ia melanjutkan bicaranya, 

“kasihan juga jika si Mas itu jika mendapat kunjungan yang kurang bagus niatnya. Bisa sekalian bang Abu, jika ada gangguan di tempat ini dan di arah kan nantinya ke kurungan itu…”

“Saya memang berencana demikian bang Ardi, jadi semua gangguan itu nanti muaranya ke kurungan gaib tersebut. Saya akan meminta kepada SAX dan Cambuk Petir untuk menggiringnya kesana..”

“Bagaimana bang Abu membuat kurungan itu..?” Tanya Ardi.

“Saya memohon izin dari Allah dan dibantu oleh Sang Pendamping…”, jawab Abu Abu. 

Ardi terlihat mengangguk-angguk sambil mengangkat cangkir kopi yang telah dipersiapkan Abu Abu sewaktu Ardi datang tadi.

Tak lama Abu Abu mulai mengatur posisi duduk, ia akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar diizinkan untuk membuat kurungan gaib melalui perantara Sang Pendamping. Dengan mata terpejam ia mulai terlihat khusuk, sejurus kemudian kedua tangannya mulai bergerak secara bersamaan dan kedua telapak tangannya saling bertemu di depan dada. Terlihat Abu Abu mulai memanjatkan doa-doa memuji kebesaran Nya. Ada sesosok bayangan bersurban dan berbaju putih terang mendampinginya berdoa, tubuh Abu Abu sendiri memancarkan cahaya putih kebiru-biruan. Lebih kurang 5 menit, tiba-tiba Abu Abu menggerakkan tangannya dan ia mengangkat kedua tangannya keatas. Seleret sinar biru keluar dari telapak tangannya dan sinar itu melesat menuju rumah si Mas. Hanya sepersekian detik cahaya tiba di lorong samping rumah si Mas dan cahaya itu membesar.. lama –lama mulai terlihat membentuk sebuah kurungan berjeruji. 

Setelah selesai terbentuk kurungan gaib, Abu Abu mulai merubah posisi meditasi menjadi duduk santai. Ia pun mengambil cangkir kopi dan meminumnya, setelah itu barulah ia mengambil rokok. Terasa nikmat..

“Bagaimana bang Ardi ?” Tanya Abu Abu.

“Kurungan gaib itu kah bang ?” Ardi ingin memastikan, karena sedari tadi sewaktu Abu Abu berdoa.. Ardi sibuk memainkan handphonenya ber sms.

“Ia bang..!”

Ardi memejamkan matanya sejenak… dan berkata, “ sudah ada bang Abu.. . Abang letakkan di samping rumah si Mas ?”

“Benar, dan saya juga berdoa meminta rumah saya terhubungkan dengan rumah si Mas. Sehingga semua yang berniat jahat atau tidak baik di rumah saya atau si Mas akan tersedot ke dalam kurungan itu”.

Mereka berdua memperhatikan dari jarak jauh bentuk kurungan gaib tersebut. Abu Abu bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang akan pertama kali masuk dalam kurungan itu ? Apakah berhasil dan bagaimana kelanjutannya jika semakin lama semakin banyak yang terkurung disana ? Dia terdiam beberapa saat. Sedangkan Ardi juga berpikir tentang kurungan itu, bagaimana kah cara nanti menggiring ke kurungan itu ? Bagaimana seandainya jika ada yang ingin mencoba melepaskan jika ada yang terkurung ? Tetapi Ardi percaya dengan Abu Abu dan juga akan kemampuan kurungan itu, karena terbuat dari doa.

Kemudian mereka berbincang-bincang kembali seperti biasa nya sambil melihat posting dan komentar-komentar di grup Facebook Seri Kisah Bunian. Grup itu merupakan wadah dari Blog yang dibentuk oleh Abu Abu agar lebih mudah untuk berkomunikasi secara langsung serta sebagai alat untuk menyampaikan apa yan menjadi tujuan mereka, yaitu KEBENARAN. Mereka membaca komentar sambil tersenyum-senyum dan kadangkala tertawa, karena isinya banyak bercanda namun dalam batas-batas wajar. Sesekali Abu Abu memberikan komentar atau posting, namun Ardi lebih jarang memberikan komentarnya… ia lebih senang membaca.

Blog yang ditampilkan dan beralamatkan http://portalpurba.blogspot.com itu sudah tersambung dengan beberapa dimensi bahkan juga lebih banyak lagi. Kasih salah satu putri dari Haji Guru Besarlah yang mengendalikan dari dimensinya, sedangkan Abu Abu bergantian dengan kembarannya di dunia nyata. Bagi pembaca blog dari dunia nyata tentu dapat mengetahui dari komennya ada yang pro dan ada yang kontra. Namun hal tersebut adalah biasa, sedangkan di alam kebenaran lebih banyak memberikan komentar setuju dan mendukung .. tetapi hanya ada saran dari manusia bunian kebenaran yang berasal dari Kerajaan Hongaria (penulis juga bingung.. menurut pak Haji Guru Besar adanya dekat Kazastan) .. yang memberikan saran agar baik nama ataupun tempat selalu disamarkan.. itu saja sarannya. Abu Abu pun menanggapinya dengan menyetujui saran tersebut. 

Begitu pula dengan Grup Seri Kisah Bunian (FB), Abu Abu berdua dengan kembarannya aktif memperhatikan grup tersebut baik di alam nyata dan gaib nya. Anggota grup di alam nyata ada juga orang bunian kebenaran dari Padang 12 yang ikut masuk namun belum memberikan komen atau posting dan siapa orang nya masih di rahasiakan termasuk Abu Abu yang nyata. Sedangkan anggota grup dari alam gaib jumlah anggotanya sudah sangat banyak berlipat-lipat dari anggota grup FB mana pun .. karena anggota nya dari seluruh dunia. Kadang juga jika kembaran Abu Abu belum menyetujui menjadi anggota mereka langsung mengirim SMS untuk di setujui menjadi anggota grup.
Seperti biasanya, setelah jam menujukkan 23.00 malam  Ardi berpamitan kepada Abu Abu untuk kembali pulang ke rumahnya. Malam itu bulan gelap tetapi tetap cerah dan udara terasa gerah.

“Selamat malam, bang… saya pulang dulu..”, Ardi berpamitan kepada Abu Abu dan menstarter motor nya.

Abu Abu mengangguk dan berkata, “selamat malam juga bang Ardi, oh ya.. terima kasih sharing nya malam ini”.

“Ya bang,…”.

Kemudian Ardi pun bergerak dengan sepeda motornya menuju ke rumahnya. Abu Abu pun segera berbalik untuk menutup pintu dan garasinya. 

Semakin lama malam pun semakin larut, semua telah terlelap dalam mimpi. Kurungan gaib yang baru terbentuk dan bercahaya kekuning-kuningan berpendar-pendar lembut. Jika tidak memiliki kemampuan lebih tentu sulit untuk melihatnya. Suasana lengang malam hari disekitar kurungan itu tiba-tiba terkoyak oleh canda dan tawa beberapa anak kecil sayup-sayup terdengar. Semakin lama semakin jelas suara mereka dan sepertinya akan mendekati kurungan gaib itu.

Ternyata ada sekitar 4 makhluk bertubuh kecil. Orang biasa menyebutnya tuyul, mereka memiliki kebiasaan yang kurang baik yaitu senang mencuri uang. Sepertinya mereka juga terkejut melihat kurungan yang bercahaya itu, tampak mereka berbisik-bisik satu sama lainnya dan karena tuyul ini kebanyakan berujud anak kecil tentunya juga memiliki sifat yang usil dan senang bermain. Lupa akan tugasnya, mereka ber-empat kemudian sambil tertawa-tawa meloncat dan menari di seputar kurungan itu.

Sedang asyik-asyik melompat-lompat dan menari-nari, mendadak pintu kurungan terangkat keatas dan otomatis terbuka. Keempat tuyul itu sejenak berhenti, mereka saling pandang.. kemudian bersama-sama mereka berjalan dan berdiri tepat didepan pintu kurungan yang terbuka itu. Dasar nakal dan ingin tahu, bersama-sama mereka masuk sambil meraba-raba jeruji kurungan yang bercahaya. Hanya beberapa langkah setelah semuanya masuk mendadak terdengar suara nyaring..

“Blammm….!!!!”

Pintu kurungan itu menutup dengan sendirinya. Kemudian muncul jeruji besi dari lantai kurungan sampai ke atas dan bergerak bergeser mendekati keempat tuyul itu. Ternyata kurungan itu dapat mendadak membuat kurungan lagi didalamnya. Jadi ada kurungan di dalam kurungan, sehingga keempat tuyul itu pun tidak bisa keluar lagi. Mereka berteriak menjerit dan mencoba menarik jeruji kurungan itu. Jangankan mau bengkok, bergetarpun tidak jeruji itu oleh usaha yang dilakukan oleh keempat tuyul itu.  Lama kelamaan mereka pun putus asa hanya bisa menangis memanggil nama seseorang, mungkin seseorang yang disebut oleh keempat tuyul itu adalah pemilik mereka.

Keesokan paginya…
Seseorang lelaki berumur sekitar 50 tahun lebih terlihat mondar mandir di depan rumah si Mas dengan menggunakan sebuah motor, matanya terlihat liar menoleh ke kanan dan ke kiri. Lelaki itu kehilangan keempat tuyul peliharaannya setelah semalaman tidak kembali. Entah dimana ia mendapatkan tuyul tersebut, tetapi dari hasil yang didapatkannya dengan bantuan tuyul .. hidupnya kini lebih mapan dari sebelumnya dimata para tetangganya. Namun sebenarnya justru kehidupan bathinnya yang menjadi rusak dan tidak tenang. Apalagi jika tuyul tersebut tidak kembali, tentu membuat nya sangat ketakutan. Ketakutan kehilangan pundi-pundi uang dan ketakutan pada perjanjiannya saat mendapatkan tuyul.

Lelaki itu mendengar teriakan anak asuhnya, dia dapat memetakan letak kehilangan anak asuhnya di seputar tempat tinggal si Mas. Namun apa daya, tak tampak ada tanda yang tepat dan pasti dimana letak tuyul itu tersekap dan siapa yang menyekapnya .. betul-betul ia tidak tahu. Entah apa yang akan diterimanya kelak.

Malam kedua dan seterus nya setelah terbentuk kurungan gaib, satu persatu banyak yang terserap masuk. Ada tiga harimau yang masuk satu persatu, dua ular besar, kelelawar, jelmaan manusia separuh badan kakinya tidak tampak.. semuanya kebanyakan kiriman dari tanah jawa. Mereka kebanyakan adalah suruhan. Salah satu harimau belang itu ternyata milik seorang wanita tua berjubah hitam yang menjadi suruhan oleh seorang lelaki berciri kan memiliki rambut bergelombang teman dari si Mas dimasa mudanya.

Malam pertama si wanita berjubah itu datang dan meminta Abu Abu agar melepas harimau belang miliknya. Dia terbang dari atas dan turun di depan garasi si Mas. Kedatangannya di sambut oleh Harimau Hitam yang menjaga garasi depan sebelah kiri, Harimau itu berdiri menatap tajam.. dia bersiap menerkam jika si wanita itu berniat jahat. Tapi sikap si wanita itu terlihat tidak ingin berbuat jahat, ia mengucapkan salam dan menyampaikan niatnya ingin bertemu Abu Abu. Harimau hitam melenguh pendek-pendek sebanyak tiga kali dan tak lama keluarlah Pangeran Selempang Kuning dari dalam ruang kerja Si Mas. Malam itu si Mas sudah tertidur, dia tidak mengetahui jika di ruang kerjanya telah berkumpul beberapa sosok gaib, termasuk Abu Abu.

Pangeran bertanya kepada si wanita itu…

“Assalamualaikum, selamat malam Nyi… , niatan apa yang membawa diri Nyi ke tempat ini ?”

“Salam Pangeran, saya datang dari jauh ingin menyampaikan permasalahan saya kepada Tuan Abu..”.

“Bolehkah saya mengetahui duduk permasalahan Nyi kepada Abu Abu ?” Tanya Pangeran Selempang Kuning.

“Tentu Pangeran, seekor harimau saya telah membuat kesalahan kepada Tuan Abu, sehingga dia terkurung di dalam…. Bolehkah saya memohon kepada Pangeran untuk membebaskannya ?”. Tanya si Wanita Berjubah dan memohon agar harimau yang dianggap miliknya untuk dibebaskan.

“Niatmu baik Nyi, silahkan bicara langsung kepada Abu Abu…”, kemudian Pangeran memutar tubuhnya dan masuk ke dalam tempat kerja si Mas.. di belakangnya Wanita Berjubah itu mengekor di belakang Pangeran. Harimau hitam penjaga hanya menoleh sesaat dan kemudian duduk lagi berjaga-jaga. Antara garasi dan ruang kerja ada sebuah ruangan terbuka dan disitu ada sebuah halaman memanjang kebelakang.. di situlah tempat kurungan itu diletakkan. Setelah melewati garasi, si Wanita Berjubah itu berhenti...  tidak berani masuk ke dalam ruang kerja, karena disitu ada Abu Abu. Sepertinya segan untuk masuk… Ia berdiri diluar tetapi tidak mendekati kurungan.. hanya melihat ke dalam isi kurungan itu dan terlihat harimau belang nya berputar-putar dan sambil mengeluarkan suara pendek.

Pangeran Selempang Kuning menyampaikan kepada Abu Abu tentang niat wanita Berjubah Hitam itu.

“Cucuku.., wanita itu ingin bertemu dengan mu, nak..!”

Pangeran Selempang Kuning adalah Leluhur dari Abu Abu, beliau ini dulu pernah menjadi Raja di Kerajaan Bunian Paloh. Masih dalam wilayah Kabupaten Sambas. Namun sekarang beliau lebih cenderung mendalami agama dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Abu Abu merupakan turunan langsung dari Sang Pangeran, yang memiliki suatu tanda di kening nya. Tanda itu hanya dimiliki oleh satu orang dalam satu keluarga. 

“Ya Eyang, saya akan berbicara langsung kepada nya..”, jawab Abu Abu kepada sang Pangeran. Kemudian ia melihat kepada Wanita Berjubah Hitam yang sekarang duduk bersila namun berada diluar ruangan tempat Abu Abu duduk bersama Pangeran Selempang Kuning dan Pak Ustadz Haji dari Padang 12.

“Siapa namamu Nyi ? Berasal darimana  dan apa niat mu, kemari.. ?”

“Sendiko dhawuh, Tuan Abu. Nama saya Nyi Laksmi berasal dari Gunung Pamarihan, niat hamba datang kemari adalah ingin memohon kepada tuan sudi kiranya untuk berkenan melepaskan kerabat hamba yang berujud harimau belang.. Ampun beribu ampun, karena ketidaktahuan sesembahan hamba yang telah mengutus harimau belang yang menjadi kerabat hamba untuk menyakiti si Mas yang menjadi teman Tuan Abu …”

Wanita itu mempergunakan tata cara jawa dalam berkomunikasi dengan Abu Abu. Ia sepertinya tahu dalam beradat jika bertemu dengan seseorang.

“Saya mengerti Nyi, atas keinginan nya agar saya melepas harimau itu. Sudah beberapa kali dia datang untuk mencoba kami atas suruhan dari sebuah perguruan harimau. Tetapi….. apakah Nyi sendiri dapat menjamin bahwa harimau ini atau kalian tidak digunakan lagi untuk menyakiti sesama makhluk hidup yang lain.. ?”

Abu Abu menatap wajah dengan mata menyelidik, ia menunggu jawaban si Wanita Berjubah Hitam… namun Nyi Laksmi itu hanya menunduk saja tidak bisa menjawab. Ia  merasa serba salah, karena ia juga ikut andil dalam menyerang si Mas dengan mendatangi rumahnya dalam ujud Harimau yang  diutus oleh lelaki berambut bergelombang yang menjadi sesepuh dari perguruan harimau. Namun salah atau betul tindakan tuannya itu ia tetap melakukan perintah yang diberikan.. yang kebetulan si tuan telah memerintahkan harimau kerabat nya untuk menyakiti si Mas. Benar-benar tak disangkanya, selama perjalanan hidupnya malang melintang di dunia gaib.. baru kali ini dia tak berkutik menghadapi Manusia Bunian Kebenaran. Dia pun sebenarnya tahu akan kekuatan manusia gaib itu dan mereka tidak pernah ikut dalam suatu perbuatan yang menyalahi hidup. Dikiranya si Mas tidak ada hubungan dengan manusia bunian kebenaran.

Karena Nyi Laksmi terdiam membisu, Abu Abu berkata lagi kepada nya..

“Bertanyalah kepada pak Haji Guru Besar dari Kerajaan Padang 12, Nyi… Semua perihal  kurungan gaib ini juga sudah kami bicarakan sedari awal sebelum kedatangan Nyi kesini yang disepakati untuk diserahkan kepada beliau mengingat keterbatasan kami dalam mengawasinya..”.

“Baiklah jika demikian Tuan Abu.. saya pun mengerti apa yang tuan sampaikan. Terima kasih tuan telah menerima kedatangan saya dengan baik. Saya akan menemui tuan Haji Guru Besar nantinya untuk memohon melepaskan Harimau kerabat saya…”.

“Baik, Nyi.., silahkan datang kembali jika beliau ada disini…”, ujar Abu Abu kembali.

“Kalau begitu ijinkan saya untuk kembali ke tempat saya.. Salam..”.

“Waalaikumsalam, Nyi..!” 

Semua yang hadir itu serempak menjawab salam dari Wanita Berjubah Hitam itu. Ia pun beranjak dan mundur perlahan-lahan beberapa langkah Wanita Berjubah Hitam berbalik dan berjalan hingga diluar garasi. Di luar ia mengangguk dengan Harimau Hitam yang turut membalas anggukannya. Wanita Berjubah Hitam itu kemudian melesat ke angkasa pulang kembali ke tempatnya bertapa di gunung Pamarihan di Pulau Jawa.

Beberapa saat lalu pertemuan antara Abu Abu dan pak Haji Guru Besar adalah membahas tentang kurungan gaib yang telah dibuat oleh Abu Abu. Dalam pembicaraan tersebut kala itu, Abu Abu meminta kesediaan pak Haji Guru Besar untuk membantu mengawasi dan mengendalikan kurungan gaib itu. Sesuai informasi yang di dapat Abu Abu dari rekannya Budiman, bahwa beliau memang menguasai kurungan gaib.. sehingga tidak salah jika Abu Abu memohon kesediaan kepada beliau. 

Keesokan malamnya, mereka kembali berkumpul namun di tempat nya Abu Abu. Disana hadir juga pak Haji Guru Besar, Ustadz Haji, Ardi dan Pangeran Selempang Kuning serta 8 Dara dan Asri adik dari Abu Abu. Mereka bercengkerama berbincang-bincang seperti biasa, kebanyakan Abu Abu dan Ardi yang sering bertanya. Karena ada hal-hal yang mereka butuh petunjuk langsung dari pak Haji Guru Besar.

Pembicaraan adalah berkisar kepada kurungan gaib dan kedatangan sesosok makhluk gaib berujud Wanita berjubah hitam bernama Nyi Laksmi yang meminta agar dilepaskan peliharaannya yang berupa harimau. Pak Haji pun menjelaskan beberapa hal mengenai kurungan gaib itu dan seperti apa nantinya. Karena tujuan dari kurungan itu adalah mendidik mereka kembali yang berbuat jahat untuk menjadi baik kembali, sehingga tidak akan mengganggu siapapun lagi. Abu Abu dan Ardi sendiri belum mahir memahami tentang Ilmu Benar Dan Salah, karena bisa saja mereka berjanji akan tidak berbuat jahat kembali dan siapa yang tahu jika mereka hanya berbohong. 

Tak berapa lama datang lah kembali Nyi Laksmi, mungkin tahu jika saat itu datang pak Haji Guru Besar. Seperti kemarin permintaanya yaitu untuk membebaskan kerabatnya yang terkurung. Oleh pak Haji Guru Besar, beliau menjelaskan duduk permasalahannya dan mengatakan kepada Nyi Laksmi bahwa ia akan membebaskan harimau kerabatnya itu jika si harimau itu telah benar-benar tidak berbuat lagi seperti menjadi suruhan untuk berbuat jahat.

Nyi Laksmi sendiri berjanji akan menepati apa yang dipinta oleh pak Haji Guru Besar, namun beliau sendiri berkata adalah tidak hanya Nyi Laksmi saja atau kerabatnya yang terkurung yang harus berjanji tetapi seluruh kerabatnya di Gunung Pamarihan untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan makhluk hidup. 

“Bersabarlah Nyi… Jika sudah saat nya bebas tentu akan di lepaskan kerabat Nyi Laksmi…”, ujar pak Haji Guru Besar kepada Nyi Laksmi.

“Baik Tuan Haji Guru, saya mengerti.. sekarang saya sudah bisa berlega hati dan sangat berterima kasih kepada Tuan Haji Guru, Tuan Abu Abu dan semuanya. Kami dari keluarga Harimau Gunung Pamarihan meminta maaf akan kesalahan-kesalahan kami dan berjanji tidak akan berbuat yang merugikan makhluk ciptaan Nya..”. 

Nyi Laksmi sudah dapat tersenyum, setelah pamit kepada semua yang hadir ia kembali ke gunung Pamarihan tempat dimana ia dan keluarga serta kerabatnya berada. Dia akan menyampaikan khabar gembira mengenai rencana kebebasan kerabatnya. Nyi Laksmi juga akan menceritakan pertemuan nya dengan para sesepuh Negeri Bunian Kebenaran dari Kerajaan Padang 12 kepada keluarga dan kerabat-kerabat nya. Selama ini dalam pandangannya, bahwa mereka lah yang paling terkuat dan menguasai seluruh daratan. Ternyata setelah menghadapi kejadian ini, membuat nya tersadar bahwa tidak ada kekuatan yang paling tinggi di muka bumi, hanya Hyang Widhi lah atau Tuhan Yang Maha Kuasa yang  menguasai isi seluruh Jagat Raya. Pembicaraan nya dengan pak Haji Guru Besar sungguh-sungguh sangat menyentuh kalbu wanita tua yang menguasai Gunung Pamarihan.


----------------------
(Bersambung... Seri II)

SOS SKB

SOS SKB (Seri Kisah Bunian) adalah diperuntukkan yang membutuhkan bantuan dalam hal pengobatan Non Medis dengan tanpa dipungut biaya.

Sampaikan keluhan/permasalahan kepada alamat emai :
serikisahbunian@yahoo.com

Diharap jangan bercanda/mengetes/menguji dengan keluhan palsu yang justru akan ditindaklanjuti dengan cara kami.