Health

Minggu, 16 November 2014

SERI KISAH BUNIAN : KERAJAAN BAWAH AIR / HIKAYAT KANJENG RATU (SERI IV)

MENDUNG DI LANGIT PAJAJARAN
(1)





Pagi itu juga, Purgabaya Jalak Suta tak ingin berlama-lama meninggalkan Pajajaran. Tugas yang diembannya telah tercapai dan ia pun ingin segera mengetahui sampai sejauh mana upaya yang menjadi tanggungjawabnya berhasil. Namun sebelum berangkat, ia telah dititipkan sebuah racun yang sangat kuat hasil olah kemampuannya selama menggeluti dunia racun  oleh ki Pati yang tiada dua nya dan bahkan dia sendiri belum memiliki penawarnya. Perjalanan pulang Purgabaya Jalak Suta beserta rombongan sangat berbeda dibandingkan saat pergi, lebih cepat rasanya dari sebelum menuju tempat Ki Pati.

Namun sementara itu di Pajajaran menjadi heboh, di peraduan Sang Permaisuri sudah ramai berkumpul para emban dan pengawal. Sang Abhiseka tampak berada diatas tempat tidur masih belum sadarkan diri, sang ibunda nya pun tampak sesegukan menangis melihat sang putri kesayanganyadalam lara yang pedih.

Apakah yang terjadi ? Mengapa sedemikian jahatnya perlakuan entah siapa itu hingga membuat putri kesayangannya tak sadarkan diri dan ada rasa sakit yang menusuk hati adalah sekujur tubuh putrinya itu bagaikan hangus terbakar. Kulit nya melepuh hingga sampai ke wajah.... oh, gusti... jerit hatinya... kenapa begitu berat apa yang dialami putrinya ini. Kenapa tidak ditimpakan semua kepada dirinya, yang meninggalkan kahyangan demi kasihnya dan betapa pun berat kehidupan sebagai manusia biasa.... mampu ia jalani. Namun ini.... sungguh diluar batas kesabarannya sebagai manusia. Begitulah kemelut hati ibu putri Kadhita semakin membuncah dan air mata tak henti menetes manakala melihat kondisi putrinya.

Sementara, di kamar tersebut telah hadir sang Raja dengan tergopoh-gopoh datang setelah salah seorang emban sang Ratu mengabari bahwa ada kejadian aneh di peraduan sang permaisuri yang mengakibatkan Abhiseka Pajajaran itu terluka parah.

“Duh, Gusti... apa yang terjadi, kenapa bisa begini ?” Tanya sang Raja, semua terdiam, hanya terdengar sesegukan tangis istrinya.

“Panggilkan tabib istana seegera...!” Wajah nya terlihat gusar dan sangat marah diusianya yang semakin senja.

“Sudah dipanggil Tuanku...”, ucap seorang Purgabaya yang bertanggung jawab keamanan di wilayah kediaman tersebut. Ia kemudian mengikuti sang Raja duduk dipinggir tempat tidur, kemudian menceritakan kejadian yang menimpa putri Kadhita yang ia dapatkan dari Permaisuri menjadi sebuah laporan.

Tabib istana yang dipanggil sudah memasuki kamar dan langsung mendekati tempat tidur, ia mendapat penjelasan sebagaimana yang diceritakan oleh Purgabaya jaga tersebut. Ia kemudian mengambil perbekalan dan mengeluarkan sebuah salep luka dan dengan kuas bulu salep tersebut di usapkan ke kulit putri Kadhita dibantu emban sang permaisuri untuk bagian yang terlarang dilihat oleh lelaki. Kemudian sang tabib membuat obat dalam, namun sebelum itu ia menciumkan botol kecil ke hidung sang putri yang membuatnya menjadi terbangun dan merintih kesakitan.

“Ibunda.....”, rintih sang putri. “Apa yang terjadi pada diri ku ?” Ibunda nya hanya dapat menangis sambil memegang tangan putri nya. “Tubuh ananda perih dan sakit....panas sekali...”, keluhnya.

Sang Raja yang perkasa pun tak mampu menahan air mata, letupan amarah menggelegak dalam dada. Namun itu malah membuat linangan air mata nya jatuh berderai. Kegagahannya luluh oleh tangis seorang ayah yang melihat penderitaan calon pengganti nya. Ada rasa sesal memilih putrinya menjadi pengganti dirinya sehingga menyebabkan putri Kadhita menjadi sasaran pembunuhan yang telah dilakukan berkali-kali oleh orang yang tidak menyetujui.

Kondisi putri Kadhita sendiri sekujur tubuhnya melepuh seperti terpanggang api atau seperti terkena awan panas... 80% luka bakar. Sungguh dahsyat serangan yang dilakukan oleh Ki Pati dari jarak yang sangat jauh dan walau tidak dapat mengenai secara langsung namun efek nya saja sungguh sangat mengerikan.... Jika bukan putri Kadhita, tentu jiwa nya akan segera menemui sang Dewa Yamadipati saat itu juga.

Kerabat dekat kerajaan semua berkumpul di ruangan dimana putri Kadhita mendapat perawatan dan penjagaan super ketat dibanding biasa nya. Semua menunjukkan empati apa yang dialami sang putri atas kejadian yang dengan keji menimpa sang Abhiseka. Termasuk Dewi Nawang Sari pun hadir, juga Mpu Tunggah yang ikut berbela duka atas kejadian tersebut.

Tetapi tak seorangpun tahu bahwa itu semua adalah atas ulah Dewi Nawang Sari yang di amini oleh sang penasihat spiritual raja, Mpu Tunggah.

Sepulang nya dari tempat putri Kadita, mereka bersepakat akan hadir 2 hari kemudian di tempat Mpu Tunggah, sekalian menerima kedatangan puragabaya Jalak Suta dari tugas rahasia nya.

Hari-hari berlalu, Pajajaran dalam kesedihan. Berita tentang kejadian yang dialami putri Kadita menyebar diseantero negeri bahkan negeri-negeri tetangga. Sungguh cepat sekali berita tersebut beredar, apalagi sang putri adalah seorang gadis yang rupawan tentu lah menjadi perhatian semua orang. Semuanya berduka atas kejadian yang menimpa sang putri Kadita.

Sudah 2 hari kejadian berselang, namun tubuh putri Kadita tak semakin membaik. Dari luka-luka yang diderita nya semakin parah dan keluarlah nanah yang menyebabkan tercium bau busuk. Selain sakit sekujur tubuh nya putri Kadita pun terasa teriris hati dan jiwa nya melihat kondisinya yang menjijikkan, obat-obatan yang diberikan tabib istana tidak membuatnya semakin baik. Hal ini mungkin karena racun angin yang dikirim seseorang untuk membunuh dirinya.

Sementara itu dikediaman Mpu Tunggah telah tiba Puragabaya Jalak Suta beserta rombongan yang disambut oleh tuan rumah dan juga Dewi Nawang Sari.Jalak Suta langsung mengadakan pertemuan tertutup dan rombongan lainnya beristirahat di gandok.

Setelah menghirup wedang jahe panas, Jalak Suta menceritakan pertemuannya dengan Ki Pati. Mpu Tunggah dan Dewi Nawang Sari mendengarkan dengan seksama dan tidak melewatkan satu katapun. Termasuk bubuk racun yang diberikan Ki Pati kepadanya, sebagai jaga-jaga jika diperlukan untuk mensukseskan tujuan mereka.

“Baik lah Jalak Suta, terimakasih atas pengorbananmu dan tentunya akan ada imbalan atas kesetiaanmu ini”, ujar Dewi Nawang Sari. Jalak Suta hanya terdiam sambil mengangguk dan kedua telapak tangannya merapat di depan wajahnya dambil menjawab, “Terimakasih, Kanjeng Ratu..”.

Mpu Tunggah tersenyum simpul seraya berkata dan menepuk pundak Jalak Suta, “istirahat lah di kamar yang telah disediakan setelah perjalanan yang jauh...”.
“Terima kasih Kanjeng Ratu... terimakasih Mpu...,” jawab Jalak Suta sambil menghormat pada kedua teman bicara nya dan dia pun beringsut mundur meninggalkan tempat pertemuan itu.

Kini tinggallah Mpu Tunggah dan Dewi Nawang Sari sepeninggal Jalak Suta yang menyusul rekan-rekannya yang lebih dahulu beristirahat.

“Rencana kita semakin jelas. “, ucap Dewi Nawang Sari kepada Mpu Tunggah yang kemudian manggut-manggut mempermainkan janggutnya yang memutih.

“Benar, Kanjeng Ratu... walau tidak sepenuhnya selesai dengan segera, namun lambat laun akan sirna dari mayapada ini”.
Dewi Nawang Sari kemudian beranjak dari duduknya sambil memainkan kipas cendana yang senantiasa dipegangnya dia berkata-kata, “harus segera Mpu Tunggah, tidak boleh terlalu lama”.
Orang tua itu kemudian ikut beranjak dan berdiri agak jauh dari Dewi Nawang Sari.

“Apakah Kanjeng Ratu punya rencana lain ?” Tanya Mpu Tunggah perlahan.

“Benar..”, Dewi Nawang Sari berbalik menghadap Mpu Tunggah sambil menepukkan kipasnya ke telapak tangan kirinya. “Berita dari telik sandi Mpu.... Raden Kian Santang salah satu putra Kakanda Raja akan berkunjung ke tlatah Pajajaran”.

Wajah Mpu Tunggah menampakkan rasa terkejut dan matanya sedikit melebar tanda keterkejutannya yang luar biasa. Umumnya dalam mendapat berita apapun walau berita baru dan membuatnya tekejut sekalipun tak akan membuat air mukanya berubah tetap datar tak beriak.

“Kian Santang....”, gumamnya. Siapa yang tidak tahu siapa Raden Kian Santang, asal usul nya dan apa yang di anutnya dalam beribadat. Pemahaman baru di seluruh nuswantara, agama baru. Para Raja Nuswantara sudah beralih ke pemahaman baru itu. Hal ini membuatnya terlonjak kaget, mengingat apa dan siapa dibelakang Raden Kian Santang. Sebuah kekuatan yang besar dan tergabung dalam pemahaman baru tersebut.

Sesaat Mpu Tunggah seperti kehabisan kata-kata.

Kemudian, “Kapan pasti nya Raden Kian Santang ke Pajajaran Kanjeng Ratu ?”

“Saya belum dapat memastikan, namun perkiraan saya 6 minggu dari sekarang, Mpu..”, sahut Dewi Nawang Sari.

“Kita harus bergerak cepat, tidak dapat menunggu lagi..”, sang selir Raja Mundingwangi ini menegaskan keinginannya dan harapannya kepada Mpu Tunggah yang dikenalnya banyak akal.

Mpu Tunggah merapatkan kedua telapak tangannya dan dalam posisi menyembah, “Kanjeng Ratu.. serahkan semuanya kepada hamba dan saya minta puragabaya Jalak Suta menjadi penghubung antara saya dan Kanjeng Ratu...”.

“Baik, Mpu... saya akan menugaskannya”, tukas Dewi Nawang Sari sambil bergerak meninggalkan ruang tempat pertemuannya dengan Mpu Tunggah. Diluar sudah siap kereta nya dan sang selir pun kembali menuju kekediamannya diiringi para prajurit dan pasukan sandinya yang telah beristirahat sejenak. Mereka akan melanjutkan istirahat di tempat barak mereka di kediaman sang selir. Mereka memang ditempatkan untuk menjaga keluarga kerajaan yang mana mereka boleh memilih orang-orang dari pasukan yang telah disiapkan kerajaan.

Syahdan, berita sakitnya putri Kadita yang merupakan Abhiseka Pajajaran telah di sayembarakan. Tabib manapun jika mampu menyembuhkan sakit misterius itu akan mendapat imbalan dan akan diangkat menjadi Tabib Istana..

Banyak juga yang mencoba mengobati sang putri Kadita tapi semua tak mampu mengobati apalagi menelusuri asal muasal penyakit tersebut. Mereka rata-rata memahami bahwa ini bukanlah penyakit biasa tetapi penyakit buatan dengan kekuatan yang sangat tidak lazim dn sangat kuat. Bahkan para tabib yang mencoba mengobati hampir tidak mampu mencium bau busuk yang keluar dari tubuh putri Kadita. Bahkan dari luar kamar peraduannya pun akan tercium bau tersebut. Betapa tersiksanya sang putri, siapapun akan merasakan itu jika dalam kondisi sang putri.

Namun, untuk makan dan berjalan walau tertatih-tatih... putri Kadita dapat melakukannya. Hanya dalaam tempo beberapa hari saja sekujur kulit nya itu dari bernanah menjadi timbul ulat-ulat yang entah darimana munculnya... wajahnya yang jelita menjadi sangat mengerikan dan dulu banyak para pangeran yang mati-matian ingin mempersunting nya kini jangan kan pangeran... prajuritpun akan mundur menjauhi. Namun jangan salah kira, para embn dan prajurit setia penjaga putri Kadita sedikitpun tak beringsut menjauhi bahkan mereka ikut trenyuh akan nasib yang mendera dan mencobai junjungannya itu.

Hari –hari berlalu sudah lewat 2 pekan sejak Putri Kadita terserang angin jahat, muncul berita bahwa ada seorang tabib yang menyatakan siap membantu dengan ikhlas penyakit putri Kadita.  Si tabib ini memahami asal muasal penyakit tersebut dan memiliki penangkalnya. Berita didapat dari petugas kerajaan yang disebar ke penjuru negeri oleh Raja Mundingwangi dan tidak sia-sia.

“Panggil Purgabaya Sadewa...”, ucap sang Raja pagi itu kepada para penasihatnya di balairung kerajaan. Perintahpun berlanjut dan tak lama muncullah seorang lelaki gagah dengan kumis tipis dan bermata tajam bagaikan mata elang.

“Sendika Prabu... hamba siap menerima titah ...!” Ucap Sadewa setelah terlebih dahulu beringsut dan menyembah kepada raja nya itu... kepala nya tertunduk tanda hormat dan siap menerima tugas.

Sadewa merupakan salah satu Purgabaya pilih tanding dan telah melewati berbagai tugas serta pertempuran sehingga diangkat menjadi Purgabaya di lingkungan kerajaan. Ketrampilan berkuda dan membentuk barisan tempur dikuasainya dengan baik. Tak salah karir nya meroket dan tentu sebagai lelaki yang berwajah rupawan ada satu kegemaran yang buruk, dia senang bertandang ke tempat ledhek yang berpupur tebal. Sehingga diusianya yang cukup matang dia belum menentukan pilihan pasangan hidupnya.

Sang Raja menatap Purgabaya Sadewa dan berkata, “pergilah ke ujung timur batas kerajaan ini, jemputlah seorang tabib dimana disana sudah menunggu prajurit yang menemukan tabib itu.”

“Sendika, Prabu...., titah paduka hamba laksanakan”, ucap sang Raja sambil tangannya melakukan sembah.

“Pergilah, bawa pengiring mu secukupnya..”.

“Sendika, Prabhu.... hamba mohon restu dan pamit...”, Purgabaya Sadewa beringsut mundur dan meninggalkan ruangan.


Pembicaraan tersebut didengar oleh Mpu Tunggah yang ikut hadir di balairung tersebut. Tangannya kemudian melambai samar kepada prajurit jaga yang berpihak kepadanya.

Prajurit itu tidak terlihat dan dari balik tirai dia berdiri siap mendeengar apa yang ingin disampaikan Mpu Tunggah.

“Ambil kotak kecil berisi sebuah botol kaca di dalam lemari ruang meditasi, sampaikan ke Kidang Tangkas. Jangan sampai tabib itu tiba di istana”, bisik Mpu Tunggah kepada Wuryan si prajurit sambil memberikan simbol lencananya.

“Baik Kanjeng..”, Wuryan pun segera melesat pergi. Sesampai di tempat pekatik diambilnya kuda dan diapun segera membalap ke kediaman sang Mpu. Tak jauh dan tak lama, ia sudah ditempat. Disana Wuryan menunjukkan lencana sang Mpu kepada penjaga dan ia pun menuju ruangan yang dimaksud. Tak lama ia pun dapat menemukan apa yang dicarinya sesuai pesan Mpu Tunggah.

Kidang Tangkas adalah lurah prajurit kepercayaan Purgabaya Sadewa dan merupakan kerabat jauh dari Mpu Tunggah yanng sedari kecil sudah dititipkan kedua orang tuanya kepadanya untuk mengabdi dan merubah kehidupan menjadi lebih baik. Tidak sia-sia harapan kedua orang tuanya, Kidang Tangkas memang setangkas kijang, gesit dan cekatan sehingga dengan mudah ia masuk ke dunia militer atas titipan Mpu Tunggah. Sehingga mata dan telinga Mpu Tunggah untuk dunia keprajuritan ada pada Kidang Tangkas.

Berita bahwa ada tabib dibatas timur kerajaan sampai juga ke Dewi Nawang Sari. Saat itu juga ia meminta puragabaya Jalak Suta untuk bertindak agar jangan sampai tabib tersebut sampai ke istana. Semua tindakan dan upaya diserahkan kepada Jalak Suta.

Tak perlu lama karena Jalak Suta beserta pasukan khusus nya memang tinggal di barak yang disediakan disekitar tempat tinggal selir raja. Mereka tidak berpakaian resmi dan bagaikan masyarakat umum, Kuda mereka juga menggunakan kuda yang bukan digunakan keseharian dalam tugas. Kuda prajurit berbeda dengan kuda masyarakat umum, rata-rata memiliki pengenal.

Mereka dalam satu kelompok ada sekitar 10 orang, berkuda dengan cepat dan dengan seragam hitam-hitam agar menjadi samar tak dikenal. Tujuannya adalah mendahului rombongan Purgabaya Sadewa. Sementara itu yang didahului baru keluar dari kerajaan, mereka tidak menyadari bahwa akan ada sesuatu yang akan menghadang perjalanan mereka.

Rombongan Jalak Suta tiba dihutan pinggir timur batas kerajaan di tengah hari, hutan itu masih sangat rimbun dan pekat. Tetapi jalur itu tetap ramai dilewati oleh mereka yang sering berdagang antara wilayah barat dan timur. Namun para pedagangs pasti membawa pengawal yang biasanya para pengawal ini rata-rata para pendekar yang tergabung dalam suatu usaha pengawalan. Jika tidak dikawal, begal dan rampok selalu beroperasi di hutan tersebut sehingga mau tidak mau para pedagang menyewa usaha pengawalan demi keamanan baarng dagangan mereka.

Bukan nya para begal itu tidak tahu akan kedatangan serombongan orang-orang yang tak dikenal. Mata-mata begal yang berjaga di hutan tersebut melihat bahwa yang datang ini bukan orang-orang biasa dan dilihat dari persenjataan yang dibawa serta ketangkasan dalam gerak mereka. Sehingga mata-mata begal tak berani memberi tanda memanggil teman-temannya, justru mereka malah meninggalkan hutan itu.  Hawa pembunuhan lah yang mereka rasakan dan mereka pun tak ingin membuang nyawa secara percuma bentrok dengan orang-orang tak dikenal itu.

Sementara rombongan Sadewa baru dapat melewati hutan tersebut ketika matahari telah bergeser ke arah barat. Mereka memasuki hutan dan melewati semak yang masih rapat dengan tanpa gangguan, tiada rasa khawatir karena biasa nya para begal akan berrpikir jauh untuk berhadapan dengan para prajurit. Namun mereka tidak menduga bahwa ada 10 pasang mata yang mengawasi dengan seksama, kali ini bukan begal tetapi orang-orang terrpilih yang biasa bertugas secara samar, mereka telik sandi yang memiliki tugas yang juga khusus. Ini lah yang disebut dengan kepentingan politik dari elit politik kerajaan, yang mana dalam satu kesatuan pun dapat terjadi pertikaian.

Jalak Suta telah memerintahkan untuk tidak mengganggu rombongan Purgabaya Sadewa saat melintasi hutan untuk menjemput sang tabib. Namun sekembalinya rombongan itu akan di cegat. Apapun yang terjadi si tabib tidak boleh sampai ke Kerajaan dan sebagai rencana cadangan ada Kidang Tangkas yang juga bersiap dengan racunnya jika upaya pencegatan gagal.

Desa tempat tinggal tabib itu cukup besar dipinggir hutan dimana para pedagang selalu singgah sebelum melanjutkan perjalanan atau setelah melintasi hutan tersebut. Setelah melewati hutan mereka pun memasuki desa dan dipinggir desa itu rombongan Purgabaya Sadewa telah ditunggu oleh 2 orang prajurit perbatasan. Mereka ada 3 orang termasuk si tabib, sepertinya sudah siap berangkat.

Sinar mentari pun mulai meredup ketika mereka berjumpa, karena mengingat situasi dan kondisi putri Kadita yang semakin memburuk serta esedihan yang mendalam dari sang Raja serta permaisuri mereka pun langsung kembali menuju kerajaan bersama sang tabib.

Tabib ini bernama ki Pandu adalah merupakan saudara seperguruan Ki Pati, berita putri Kadita telah didengarnya dan dia sangat masygul terhadap kejadian ini. Dari ciri yang diderita putri Kadita, dia dapat memperkirakan bahwa itu adalah perbuatan saudara seperguruannya. Rasa welas asih ki Pandu akan pederitaan calon pengganti sang raja lah yang membuatnya terrgerak untuk membantu mengobati putri Kadita,

Ki Pandu lebih banyak berkecimpung membantu masyarakat bawah dengan ikhlas yang berbanding terbalik dengann ki Pati saudara seperguruannya itu.
Sinar bulan mulai menggantikan sinar mentari dan menggelayut di ujung ranting pepohonan hutan saat rombongan memasuki pinggiran hutan.... suara binatang malam biasanya riuh menyambut sang malam, kali ini senyap seolah mereka tahu akan terjadi sebuah kejadian yang tak tercatat dalam sejarah panjang nuswantara amun tercatat dan terkubur dalam lipatan peristiwa menanti dibuka nya kisah ini kembali.

Saat melintasi peertengahan hutan dan sinar bulan sulit menembus rerimbunannya, tiba-tiba terdengan desingan anak gandewa membelah malam dan seketika membuat roboh separoh penunggang kuda rombongan Purgabaya Sadewa... dan dari semak berkelebat bayangan meluruk dan menghantam dengan sabetan pedang...

“Begal.... !” Teriak Purgabaya Sadewa yang langsung mengelak saat kilatan pedang dari Jalak Suta hampir mengenai wajah nya dan terjadilah pertempuran sengit dalam pekatnya malam. Jerit kesakitan tanda orang yang tersabet pedang yang merobek tubuh para prajurit penjemput tabib Ki Pandu membelah malam di hutan.

“Kidang....!” Teriiak Purgabaya Sadewa.

“Purgabaya.. “. Teriak Kidaang Tangkas.

“Mana Ki Pandu ?”

“Tewas tersambar anak gandewa, Purgabaya...”. Jawab Kidang Tangkas.

Purgabaya melihat perlawanan dari penyerang semakin memberi tekanan kuat dan prajurit pengiring nya bukan lah prajurit tempur sudah pupus dua pertiga membuat nya harus membuat keputusan cepat.

“Tinggallkan semua....kembali ke markas”, teriak Purgabaya Sadewa. Tugasnya yang semula berhasil menjadi gagal, dia dan sisa pasukan harus selamat untuk melaporkan kepada sang raja.
Tak perlu menungggu lama, karena tinggal 5 orang termasuk Purgabaya Sadewa dan Kidang Tangkas yang selamat. Mereka menarik diri dari langan pertempuran dan tanpa diduga segera melesat pergi ke arah kerajaan.

“Jangan kejar.!” Teriak pemimpin penyerang yang tak lain adalah Jalak Suta mencegah pasukannya berusaha mengejar Purgabaya Sadewa dan rombongan. Mereka pun berhentii mengejar dan kembali berkumpul memeriksa satu-satu mayat yang bergelimpangan.

“Adakah mayat si tabib ?” Tanya Jalak Suta.

“Disini, taunku... “, ucap salah satu prajurit bawahan Jalak Suta.

Merekapun menuju tempat dibawah pohon besar dipinggir jalan hutan, tampak seorang lelaki tua berbaju krem tua dengan membawa tas obat-obatan bersandar dipohon itu dan di dadanya tertancap anak gandewa.

Jalak Suta mendekat dan telunjuknya diulur ke lubang hidung mayat ki Pandu untuk memastikan nafasnya sudah putus... kemudian dia memeriksa urat nadi leher dan dia merasa tidak ada detak nadi Jalak Suta harus dapat memastikan bahwa tugasnya selesai dengan gemilang.

Setelah yakin semua tidak ada yang hidup, Jalak Suta memerintahkan untuk membawa maat itu semua ke dalam hutan yang lebih lebat, disana mereka menguburkan mayat-mayat pasukan dan ki Pandu yang gugur. Selain memastikan aman merekapun tidak ingin jejak yang di tinggalkannya dengan mengubur dalam tanah.

Dini hari, selesailah tugas mereka dan mereka pun pulang dengan perlahantidak sebagaimana saat mereka pergi. Mereka mengganti seragam hitam-hitam dengan pakaian biasa agar tidak terlalu menyolok perhatian.

Apa yang terjadi di Ibukota sekembali nya Purgabaya Sadewa dan apa tindak lanjut Dewi Nawang Sari ? Tunggu kelanjutan kisah berikutnya.... Sementara ia berpacu dengan waktu akan kedatangan Raden Kian Santang


SOS SKB

SOS SKB (Seri Kisah Bunian) adalah diperuntukkan yang membutuhkan bantuan dalam hal pengobatan Non Medis dengan tanpa dipungut biaya.

Sampaikan keluhan/permasalahan kepada alamat emai :
serikisahbunian@yahoo.com

Diharap jangan bercanda/mengetes/menguji dengan keluhan palsu yang justru akan ditindaklanjuti dengan cara kami.